Hati dan Kata Hati
Q & A Violin
Senyummu Kala Itu
![]() |
| source : google.com |
Menyaksikan Kematian (Lagi)
Tak tahu harus memulai dari mana cerita ini. Rasanya pilu, hidup sungguh pilu. Betapa kematian itu pilu, menyakitkan.
Niken ikhlas Tuhan, aku tahu Kaulah penguasa atas segala yang terjadi di dunia ini. Manusia dan segala isinya adalah milikMu. Maka kepada-Mulah kami kembali.
Hanya rasanya, pilu.
Bulekku Kau panggil ke pangkuanMu. Paklekku telah lebih dulu Kau panggil. Dua adik sepupuku ini, bagaimana melanjutkan hidupnya? Ah yaa.. Tapi aku percaya, segala rencanaMu pastilah telah Kau atur dengan rapi, melebihi praduga manusia.
Jumat, sekitar jam 10 pagi, sebuah pesan Whatsapp dari adik mengabarkan bahwa bulek kritis. Seketika itu yang ada di pikiranku adalah pulang ke Solo. Beberapa saat kemudian pakdhe menelpon, "Harapannya tinggal 20%" begitu kata dokter. Haruskah menyaksikan Kematian lagi? Itu yang ada di otakku.
Rencanaku pulang di hari Sabtu pun kumajukan, dan untuk yang pertama kalinya aku izin tak masuk les. Aku ceritakan hal ini pada teman kerjaku dan ia menyarankan untuk membeli tiket pramex saat istirahat. Alhamdulilah, jika biasanya antrean sangat panjang, kali ini aku membeli tiket tanpa antre. 15 menit berlalu, aku kembali ke kantor. Jam 1.30 aku menuju Loving Hut dan masih harus menyelesaikan pekerjaan. Jam 2.00 perjalanan pulang. Makan pun tak sempat. Syukurlah, pakbosku yang baik dan pengertian mau membungkuskan makanan untuk kumakan di kereta. Makanlah aku di kereta. "Jangan terlambat makan, kamu harus makan" begitu ujarku. Di atas kereta kumakan bekal + lauk dari Loving Hut yang dibelikan pakbos. Makasi banyak Mas Bob. :))
Jam 4 kereta tiba di stasiun Solo Balapan. Aku masih menunggu bus trans yang bisa mengangkutku ke Rumah Sakit dr. Oen.
Aku tertegun melihat kondisi bulekku. "Aku bakal kehilangan bulek" begitu bisik hatiku. Pesan Mbak Linda yang menyarankanku untuk membacakan surat yasin pun kulakukan. Katanya itu akan membantu, jika sembuh maka akan diberi kesembuhan. Tapi jika tidak akan dimudahkan jalannya. Jam 5.00 aku sholat ashar & membacakan surat yasin khususon bulekku. Kondisinya sangat parah, itulah sakaratul maut yang beberapa kali kusakaikan. Rasanya entah, mungkin sakit, sangat sakit. Bagaimana sebuah nyawa dicabut dari raga, tentu itu sakit, Tuhan. Kiranya dua jam yang kusaksikan sakaratul maut itu. Bibir dan hati bergantian membaca doa. Meminta agar dimudahkan jalannya. Setelah kubelai kaki bulekku sambil membaca ayat kursi berkali-kali, jam 19.10 pulanglah bulekku ke pangkuan Tuhan.
Innalilahi Wainnailaihirojiun. Semua adalah milik Allah dan kepadaNyalah semua kembali.
Surakarta, 22 Juli 2016.
Ketinggalan Kereta (Lagi)
Kapan sih kereta itu gak ninggalin aku?
Ini udah yang kesekian kali aku gagal naik pramex tepat waktu. Rasanya kesel banget. Marah sama diri sendiri. Kenapa kaya gini mesti terulang terus. Gak tau kenapa aku susah untuk manage waktu dengan segambreng kesibukan. :(
Kesel!!
Tiket langsung kuremas-remas dan buang ke tong sampah. Jengkelnya banget nget nget..
Lempuyangan, 16 Juli 2016.
Mudik Itu Bikin Galau
Happy Birthday, Nick.
~
*Sorry, fotonya gue gak sempet insert. Bukan sok sibuk tapi emang beneran sibuk. Percaya enggak terserah situ. Yaudah nikmatin aja deh ini teks tanpa foto. :p
Salam.
Yk, 30 September 2015. NA.
Finally, Misi Dolan ke Ilmondo Terlaksana
![]() |
| anak-anak sheilagank manis |
![]() |
| Here we are, sheilagank. |
Lihat, Dengar, dan Rasakan Alam Pantai Nglambor
Ketika macetnya perjalanan perlahan berubah menjadi hamparan alam nan elok, saat itulah waktu yang tepat untuk melupakan semua penat beban kehidupan dan menyempurnakan jiwa demi kenikmatan surga dunia.
Sheilagank Solo Pandawa Lima Berbagi
Adalah suatu kesenangan tersendiri, bisa bergabung dengan sheilagank solo Pandawa Lima (komunitas fans sheila on 7 dari kota Solo) dalam acara bagi-bagi takjil (12/07). Mungkin ini adalah pertama kali dalam hidup aku bisa merasakan asiknya sebar takjil di bulan puasa. Yaa... Memang, segala sesuatu akan datang masanya, maka selagi bisa selagi ada kesempatan, nikmati itu dan berikan yang terbaik.
Jujur saja, aku senang bisa berkumpul dengan anak-anak SGPL lagi, ada rasa rindu yang terobati ketika melihat senyum tawa canda mereka. Sebuah ikatan emosional yang tumbuh dengan alami. Sayang hanya sejenak, karena aku harus kembali ke Jogja (meski gagal gara-gara ketinggalan kereta).
"Someday, we will meet again". Bisik hatiku menenangkan.
@Wakisikun. Ditulis di kereta Sri Tanjung. 14 Juni 2015. NA.
Bangun
Hidup ini keras, sayang. Bangunlah.
Bisiknya padaku lirih pagi ini.
Yk, 04 Juli 15. NA.
Sepotong Kenangan Dari Dieng
Mei lalu tepatnya tanggal 16-17 2015, acara dolan kembali diadakan. Masih bersama sheilagank, karena barangkali dengan mereka aku bisa bahagia, dan tempat wisata yang kami tuju adalah Dieng. Ada yang berbeda pada acara dolan kali ini, karena sheilagank yang ikut bukan hanya dari Jawa Tengah saja tapi juga ada yang datang jauh-jauh dari Jawa Timur, tepatnya Surabaya. Sebutlah namanya Sukar dan Sukur, haha.. Oh, maaf aku mulai gila.
Namun ini baru pertama kali aku mendatanginya, alasannya adalah satu yaitu penasaran. Mengunjungi tempat baru adalah hobiku dan syukurlah, dalam rombongan sheilagank dolan ini banyak yang belum pernah ke Dieng. Sebuah perjalanan akan mengobarkan api semangat jika kita memiliki tujuan dan keinginan yang sama. Begitupun kami, hanya delapan dari dua puluh lima anak yang pernah ke Dieng.
![]() |
| Udin - Niken - Kak Budhi |
| Narsis dulu di Tugu Yogyakarta |
Sesampainya di alun-alun kami bertemu dengan rombongan sheilagank Banjarnegara. Perkenalkanlah mereka Adi, Sucipto, Indah, Anisa, Firman, Tyas, Eron, teman Eron, dan Ardi. Setelah berjabat tangan, kami istirahat sebentar, berpose, sedangkan aku mojok dengan Aulia (makan, haha, maklum, kawan baruku yang satu ini penderita maag akut jadi tak boleh telat makan). Sehabis makan, kami kembali bertingkah di depan kamera.
![]() |
| Ian & Udin minum air langsung dr kran |
| Berebut Api Unggun |
Waktu beranjak siang, kami memutuskan
untuk pulang. Namun sebelum pulang, kami harus dan wajib mampir ke rumah
Lukman, karena semalam rencana ini batal lantaran waktu terlalu mepet. Sampai
di rumah Lukman, kami berisirahat dan tidur sangat lama. Hampir semua anak tidur,
kecuali aku, Mas Firman, Wawan, dan Tyas. Di saat mereka nyenyak tertidur,
naluri jahilku hidup kembali. Aku memotret mereka dan mengunggah foto di grup. Maaf
ya kawan, naluri ini tumbuh tak terkendali. :p Adzan Dhuhur menggema, kami menjalankan ibadah lalu berencana untuk pulang karena perjalanan pulang cukup memakan waktu ditambah sepaket bonek Surabaya harus segera pulang agar dapat berakifitas seperti biasa esok hari. Jam 14.00 kami memutuskan untuk tinggalkan Lukman sendiri, kasian deh loo... emang enak ditinggalin? Makanya pindah Jogja aja. Week.. :p
Lukman, kami pami pulang ya, terimakasih untuk jamuannya dan kebaikan hati menampung anak-anak bolang yang kelelahan ini untuk pejamkan mata. Maaf, kami harus pulang membiarkanmu kesepian karena tak ada lain pilihan.
![]() |
| Ngopi |
Kota Perang
Perjalanan Sheilagank menuju Pantai Nglambor : Pantai mungil yang tak dikenal orang.

“Asik itu adalah ketika mereka berteriak aaaaaaa....... saat ombak besar menghantam tubuh kami dan membasahi baju yang kering”
Beruntungnya Aku : Dapat CD Musim Yang Baik Gratis.
Sheila on 7 : Lirik Buka Mata Buka Telinga
Sejenak kusempat mempertanyakan
Sayup terdengar burung bernyanyi
PERNAK PERNIK KONSER SHEILA ON 7, 13 DESEMBER 2014.
Kusajikan cerita dalam tiga babak. Area Opening, Area Sheila
on 7, dan Area Sheilagank. Pada masing-masing area sudah kuberi peringatan gak
penting, sangat penting, dan penting. Jadi, aku sarankan untuk melewati yang
tidak penting dan baca saja yang sangat penting. Selamat membaca.












