Hati dan Kata Hati

Ada banyak kata yang melayang setiap hari. Terbang membumbung ke langit luas begitu bebas. Kata itu kadang berupa kalimat panjang, kadang berupa nasehat, kadang hanya ungkapan kekesalan, kadang kenangan, kadang tentang mimpi yang tak tergapai, kadang tentang masa depan yang tak pasti, kadang soal cinta, kadang tentang tenangnya hidup, dan kadang tentang perasaan. Semuanya muncul begitu saja tanpa kutahu pasti siapa yang memanggilnya. 

Kata itu seolah memang seperti omong kosong. Juga tiba-tiba menghilang dan tak mampu diingat lagi. Ketika satu kata hilang kata yang lain segera menggantikan dengan caranya sendiri.Ya, kata itu ada di hati kita. Itulah suara hati. Ada namun tiada. Nyata namun tak tampak. 

Hati, begitu sering ia bergeming. Begitu sering ia menasehati. Begitu sering ia merasa lelah. Hati terkadang kuat dan terkadang lemah. Namun di saat ia kuat, ia belum tentu mampu menerobos hati lain seperti yang terpikirkan. Pun saat hati lemah belum tentu ia benar-benar jatuh. Hati yang lemah masih menyimpan kekuatannya, hati yang kuat juga masih menyembunyikan kelemahannya. 

Di dalam hati terkadang menjadi pertengkaran. Apakah ini iya atau tidak, benar atau salah. Dan hatimu terus saja berbicara meski tak ada satupun yang mendengar. Kurasa, didengar atau tidak itu bukan perkara penting. Hati akan selalu mengoceh dengan sekehendaknya sendiri. Ia akan selalu demikian dan tak satu setanpun tahu kapan hati berhenti berbicara?

Itulah kata hati dan hati. Kau ingin menambahkannya? Silahkan saja. 

Kita tak sedang berdebat, jadi kau tak perlu setuju atau menentang. Aku juga tak sedang berpidato, jadi kau tak perlu mentah-mentah menelannya. Kita juga tak sedang berdiskusi jadi kau tak perlu susah-susah menyampaikan pikiranmu. Aku juga tak sedang berdakwah, jadi kau tak perlu mempercayai. 

Yogyakarta,  23 Oktober 2016. 
Niken Ayu

Q & A Violin



Hei yaa heiyaaa... anyway, aku lagi dengerin album 07 Des lagu Bapak-bapak saat aku menuliskan cerita ini di balkon kamar kos. Okey, karena beberapa temen dan fans gue bertanya-tanya kenapa sih aku sekarang mainan biola, berikut ini akan aku paparin secara gamblang asal muasal aku bisa memutuskan untuk bermain biola. 

Q : kenapa sih sekarang jadi mainan biola? 

A : hehe, sebenernya aku udah suka sama alat musik yang satu ini sejak lama, hitungah sejak di bangku kuliah. Tapi waktu kuliah, yah namanya juga anak kuliahan, mana sempet buat main biola. Hari-hariku udah disibukin banget sama tugas kuliah dan organisasi. Dari segi waktu emang belom ada waktu dan dari segi dana juga belum mencukupi buat memiliki biola plus bayar guru. 

Q : terus gimana ceritanya bisa mutusin buat main biola? 

A : oke, sekarang ceritanya kan aku udah berpenghasilan yang cukup. Cukup buat bayar kos, makan, dan ada sedikit sisa yang bisa ditabung. Dari kecukupan dana itulah aku memutuskan untuk beli biola dan les. Emang sih rasanya telat, tapi pepatah bijak bilang ‘Gak ada kata terlambat buat belajar’. Aku yang seusia ini harus mulai dari nol banget buat main biola. Lagipula waktuku juga cukup buat belajar. Sepulang kerja aku selalu latihan dan weekend juga terus latihan. Pokoknya latihan udah kaya makan. Udah jadi kebutuhan. 

Senyummu Kala Itu

source : google.com
Meski berkali-kali jatuh cinta, aku tak pernah berhasil menuliskan cerita romance. Begitu juga dengan “Senyummu Kala Itu” yang hanya berhenti di prolog :

Jingga. Itu bukan namamu.

Bulan di atas sana, masih saja manis. Aku tak perlu berdiri tinggi-tinggi agar menikmatinya, ia terlihat dari balik jendela kamarku. Aku melihatnya seperti melihat senyummu kala itu. Mata yang bersinar yang begitu.. ahhh.. habis sudah kata-kataku untuk menggambarkan keindahanmu. Aku tak mau pedulikan apapun malam ini. Lonceng-lonceng di luar sana. Hingar bingar jalan. Juga orang-orang yang berteriak “maling maling”, aku tak peduli. Kegaduhan itu, tak ada urusan denganku.

Nothing Gonna Change My Love For You masih melantun. Jika Michael Masser dan Gerry Goffin mengambarkan cinta seperti bintang penuntun dalam lagu itu, aku pun menggambarkanmu seperti nada yang tiap kali kudengar saat malam tiba mampu memberikan kedamaian. Lagu memangbisa membawa kita pada berbagai suasana, terkadang kuat laksana karang terkadang lemah seperti embun.

Bulan semakin tinggi. Sebentar lagi menghilang dari pandanganku. Seperti kau yang perlahan menghilang dari pandanganku kala itu. Berpamitan pulang karena hari akan semakin gelap. Namun senyummu masih tersimpan, terjaga, seperti kau menjaga kotak maroon pemberianku. Kotak yang hanya berisi sebaris puisi yang kubuat setelah aku berjumpa denganmu 110 hari yang lalu. Senyummu itu masih senyum yang dulu. Mata yang masih memancarkan sinarnya, teduh namun menyimpan banyak kepahitan. Orang-orang masih gaduh. Semakin ramai. Tidak lagi tiga orang yang mengejar maling itu, tapi sekampung. Apa yang dicuri? Mungkin ayam atau kambing. Entah. Aku tak peduli. Jalanan pun masih ramai. Kulihat jam dindingku menunjukkan pukul 23.00, tapi jalanan ini tak pernah mati. Apa yang mereka lakukan malam-malam begini? Mungkin membeli obat nyamuk, pulang dari pesta, atau hanya mencari udara. Entah. Aku tak peduli.

You’re Still the One Shania Twain digantikan Heaven Bryan Adams.Kata orang ini lagu romantis. Aku tak tahu haruskah aku percaya pada kata orang-orang itu atau membiarkannya berlalu. Tapi aku percaya bahwa setiap lagu dibuat dengan sepenuh hati. Dan lagu-lagu itu selalu menyimpan cerita dari pembuatnya, terkadang manis terkadang tragis. Begitupun lagu-lagu romantis yang takkan lepas dari cerita orang-orang yang mendewa-dewakan cinta.

Bulan menghilang dari pandanganku. Benar-benar menghilang. Tapi senyummu bukan cahaya bulan karena ia masih bersamaku di sini. Senyum yang selalu meneduhkan tiap kali terbayang. Aku suka mengenang senyummu, sangat suka. Ia begitu mendamaikan jiwaku.

Kututup jendela kamarku juga kelambu-kelambunya. Kau bilang : angin malam itu tak sehat, begadang juga tak baik. Tapi siapa suruh senyummu datang malam-malam begini? Memaksaku menuliskan kata demi kata demi menggambarkan senyummu kala itu. Namun aku gagal. Senyummu tak terdefinisikan oleh kata. Biarpun aku telah membaca tumpukan puisi dan mendengar ribuan lagu paling romantis di dunia, itu tak cukup membantuku menterjemahkan senyummu kala itu.

Kenangan  memang seperti angin. Datang dan pergi tanpa seorang tahu kapan waktu itu? Terkadang datang begitu deras meski kita tak mengingatnya, terkadang samar meski kita telah berusaha keras mengingatnya. Maling itu sudah tertangkap. Ia mencuri sekarung beras. Huh, maling kere. Jalanan sudah sepi. Kegaduhan perlahan hening. Sepi tanpa suara. Hanya terdengar jam dinding di kamar ini. Lagu-lagu yang menemaniku seolah beristirahat. Senyummu kala itu tak berhasil kuterjemahkan dengan kata. 

Yogyakarta, 14 September 2016. 115

Menyaksikan Kematian (Lagi)

Tak tahu harus memulai dari mana cerita ini. Rasanya pilu, hidup sungguh pilu. Betapa kematian itu pilu, menyakitkan.

Niken ikhlas Tuhan, aku tahu Kaulah penguasa atas segala yang terjadi di dunia ini. Manusia dan segala isinya adalah milikMu. Maka kepada-Mulah kami kembali.

Hanya rasanya, pilu.
Bulekku Kau panggil ke pangkuanMu. Paklekku telah lebih dulu Kau panggil. Dua adik sepupuku ini, bagaimana melanjutkan hidupnya? Ah yaa.. Tapi aku percaya, segala rencanaMu pastilah telah Kau atur dengan rapi, melebihi praduga manusia.

Jumat, sekitar jam 10 pagi, sebuah pesan Whatsapp dari adik mengabarkan bahwa bulek kritis. Seketika itu yang ada di pikiranku adalah pulang ke Solo. Beberapa saat kemudian pakdhe menelpon, "Harapannya tinggal 20%" begitu kata dokter. Haruskah menyaksikan Kematian lagi? Itu yang ada di otakku.

Rencanaku pulang di hari Sabtu pun kumajukan, dan untuk yang pertama kalinya aku izin tak masuk les. Aku ceritakan hal ini pada teman kerjaku dan ia menyarankan untuk membeli tiket pramex saat istirahat. Alhamdulilah, jika biasanya antrean sangat panjang, kali ini aku membeli tiket tanpa antre. 15 menit berlalu, aku kembali ke kantor. Jam 1.30 aku menuju Loving Hut dan masih harus menyelesaikan pekerjaan. Jam 2.00 perjalanan pulang. Makan pun tak sempat. Syukurlah, pakbosku yang baik dan pengertian mau membungkuskan makanan untuk kumakan di kereta. Makanlah aku di kereta. "Jangan terlambat makan, kamu harus makan" begitu ujarku. Di atas kereta kumakan bekal + lauk dari Loving Hut yang dibelikan pakbos. Makasi banyak Mas Bob. :))
Jam 4 kereta tiba di stasiun Solo Balapan. Aku masih menunggu bus trans yang bisa mengangkutku ke Rumah Sakit dr. Oen.

Aku tertegun melihat kondisi bulekku. "Aku bakal kehilangan bulek" begitu bisik hatiku. Pesan Mbak Linda yang menyarankanku untuk membacakan surat yasin pun kulakukan. Katanya itu akan membantu, jika sembuh maka akan diberi kesembuhan. Tapi jika tidak akan dimudahkan jalannya. Jam 5.00 aku sholat ashar & membacakan surat yasin khususon bulekku. Kondisinya sangat parah, itulah sakaratul maut yang beberapa kali kusakaikan. Rasanya entah, mungkin sakit, sangat sakit. Bagaimana sebuah nyawa dicabut dari raga, tentu itu sakit, Tuhan. Kiranya dua jam yang kusaksikan sakaratul maut itu. Bibir dan hati bergantian membaca doa. Meminta agar dimudahkan jalannya. Setelah kubelai kaki bulekku sambil membaca ayat kursi berkali-kali, jam 19.10 pulanglah bulekku ke pangkuan Tuhan.
Innalilahi Wainnailaihirojiun. Semua adalah milik Allah dan kepadaNyalah semua kembali.

Surakarta, 22 Juli 2016.

Ketinggalan Kereta (Lagi)

Kapan sih kereta itu gak ninggalin aku?

Ini udah yang kesekian kali aku gagal naik pramex tepat waktu. Rasanya kesel banget. Marah sama diri sendiri. Kenapa kaya gini mesti terulang terus. Gak tau kenapa aku susah untuk manage waktu dengan segambreng kesibukan. :(

Kesel!!
Tiket langsung kuremas-remas dan buang ke tong sampah. Jengkelnya banget nget nget..

Lempuyangan, 16 Juli 2016.

Mudik Itu Bikin Galau

Lama gak blogging karena berbagai sebab, entah kenapa aku pengen tulis hal ini di blog ini. Rasanya sedih, bimbang, galau, nengokin web PT KAI dan kudapati fakta bahwa tiket kereta HABIS di tanggal-tanggal sebelum lebaran. Well, akupun galau mau mudik dengan mengendarai apa. Bus? Jarak Solo-Jember itu bukan cuma sejam dua jam tapi 10 jam. Bisa kan bayangin gimana rasanya di dalem kendaraan, terjebak macet ala mudik lebaran dan ramainya lalu lintas? Itu sangat sangat melelahkan. Aku memang tak suka kesepian, tapi lebih tak suka keramaian. Macet, itu aku tak suka.

Di samping itu, beberapa waktu lalu kuterima kabar bahwa ibu tak pulang ke Jember. Bulek juga sama. Lha terus, rumah sepi dong? Harus gini banget ya lebaran tahun ini?

Pengen marah tapi mau marah sama siapa? Keadaan?

Ada 2 opsi yang masih bisa diusahain biar aku tetep mudik, karena jujur aja Niken kangen rumah banget. Udah lama gak balik, terakhir ya pas mau ke Bali itu dan cuma sehari. So, terlepas dari balik enggaknya ortu, bulek, dan nanti bakal ketemu temen-temen apa enggak aku tetep ngusahain buat mudik. Meski kutahu perjalanan itu sangat sangat melelahkan.

Happy Birthday, Nick.

September itu selalu special, begitulah. Dari tahun ke tahun selalu ada surprise dari orang-orang terdekat. Seperti juga September ini, jika dua tahun kemarin surprise dari anak kentingan kali ini giliran Sheilagank yang beraksi Siapa lagi kalau bukan geng dolan. Haha..

Malam ini, 30 September 2015 geng dolan kembali menyambangi Tombo Ngelak atau bahasa sandinya Tongel. Obrolan kami di grup sempat memanas karena Si Tyas bilang gak bisa ikut karena kerjaan belum kelar, sedang yang lain entah. Satu hal lagi yang menjadi perdebatan yaitu waktu, ada yang minta sore ada pula yang malam. Malas sekali memperdebatkan ini lagi ini lagi. Tapi aku tetap juga nekad. Berapapun orangnya dan jam berapapun tiba kami harus ke Tongel malam itu. “Pantang mundur jika sudah berjanji”.  Situasi semakin gawat, ketika pagi hari aku tahu update kabar dari Yutin bahwa ia dirawat inap di Rumah Sakit karena sakit yang belum diketahui. Rencana pun berubah. Aku, Hooba, Udin, Joko, dan Siwi menjenguk Yutin dulu setelah itu ke Tongel. 

Bukan geng dolan jika tak ada kekonyolan yang terjadi. Jam 5 sore kami ke Rumah Sakit dan betapa bodohnya mendatangi rumah sakit tanpa konfirmasi apakah Yutin masih dirawat atau tidak. Well, sesampainya di rumah sakit aku menelfonnya. Dia bilang “Aku di kos”. Kami pun mendatangi kosnya dengan hanya berbekal ancer-ancer. 

Lega rasanya bisa melihat kondisi sahabatku ini. Badannya panas, suaranya lemas, memprihatinkan. Namun ia merengek minta ikut ke Tongel, meski keadaannya seperti yang telah kupaparkan. Apalah daya hati yang tak tega melihat kawan terbaring sedang kami bersenang-senang. Dengan mengendarai motor pelan-pelan, Yutin kami bawa ke Tongel. Hei, orang sakit diajak dolan ~ kapan sih kita gak konyol geng? 

Kami sampai di Tongel. Mengejutkan itu adalah ketika Masbud, Dar, Yuli padahal mereka tak konfirmasi akan ke Jogja. Aku pun semakin kaget melihat Mumun, Aya, dan Susi (bukan nama sebenarnya) juga nongol di tongel. Tapi tiga serangkai ini segera pamit karena mau nonton Jikustik.
Sejenak kami mengobrol lalu Tyas menarikku ke suatu tempat, dia mencercaku dengan berbagai pertanyaan yang hahaaa… sandiwara apa lagi yang kau buat ini? Aku menjawab apa adanya. Setelah selesai, dia membawaku ke meja kursi kami dan taraaammm… sebuah kue ulang tahun dengan lilin berangka 23 di atasnya ada di hadapanku. Aku terdiam, entah siapa otak dari semua ini. Aku tak perlu tahu juga tak perlu mencari tahu. Namun satu hal yang pasti, siapapun itu aku ucapkan terimakasih sebesar-besarnya. Kami berfoto, mengabadikan momen istimewa ini. Mereka menyanyikan lagu ulang tahun dan kami melahap kue itu dengan malu-malu.  

Tak sampai di sini, ternyata mereka belum puas mengerjaiku, ketika akan pulang tiba-tiba krim kue mengenai wajahku. Satu, dua, tiga, cekikreeek. Wajahku penuh dengan krim.
~
Aku juga mendapat tiga kado masing-masing dari Tyas, Ningnong, dan Siwi. Dear Tyas, Ningnong, dan Siwi, terimakasih untuk bingkisannya ini. Apapun isinya akan selalu kuingat dan kujaga. :)

~
Dear Udin, Hooba, Dar, Yuli, Masbud, Tyas, Ningnong, Yutin, Siwi, Aya, Susi, Joko, Yutin, dan Murni. Terimakasih untuk malam ini, terimakasih waktunya, terimakasih surprisenya, terimakasih doanya, terimakasih perhatian dan kasih sayangnya, terimakasiiiiiihhhhhhhhhh. Maaf jika hanya mampu membawa kalian ke Tongel di September ini.  Juga terimakasih untuk teman-teman yang telah meluangkan waktunya untuk sekedar memberi ucapan selamat ulang tahun lewat facebook, sms, WA, dan inbox. Terimakasih untuk doanya, semoga terkabul dan semoga kalian juga selalu dalam lindunganNya, semoga sukses dan sehat selalu. Semoga aku tak lupa pada kalian, orang-orang yang menyayangiku.

*Sorry, fotonya gue gak sempet insert. Bukan sok sibuk tapi emang beneran sibuk. Percaya enggak terserah situ. Yaudah nikmatin aja deh ini teks tanpa foto. :p

Salam.

Yk, 30 September 2015. NA.

Finally, Misi Dolan ke Ilmondo Terlaksana

Februari lalu, pada suatu malam gelap, bintang pun tiada yang berani menampakkan ujudnya, dengan iringan suara kendaraan di kota Jogja yang bising ditambah suara-suara tawa, cerita, teriakan manusia-manusia yang haus akan hiburan, di sanalah kami juga sedang bercengkerama. Yap, tepatnya 0 km Malioboro. Sebuah public space yang cukup tersohor hingga seantero jagat raya. Merangkai khayalan membuat janji, "kapan-kapan kita ke Ilmondo". Itulah janji yang tercetuskan oleh kami (aku, Udin, dan Mbak Atin). Pada malam itu, sebuah keyakinan dan janji pun terukir sudah. Kami merencanakan bulan April atau Mei akan mengunjungi rumah Pizza milik idola kami, Duta Sheila on 7. Yap, namun sayang. Terlalu banyak lika-liku yang kami lalui untuk mewujudkan itu semua, seperti Udin yang tiba-tiba harus dipindahkerjakan ke habitat asal (Solo), Mbak Atin dan aku yang semakin sibuk, hingga kami belum menemukan waktu yang tepat untuk ke Ilmondo. 

anak-anak sheilagank manis


Here we are, sheilagank.  
Waktu yang ditentukan pun datang, 02 September 2015. Misi kami terlaksana. Melalui sebuah obrolan di WhatsApp, kami berencana untuk ke Ilmondo pada hari Rabu. Aku mengiyakan, Udin mengusahakan, dan Mbak Atin pun setuju. Masih ada Hooba, Mumun, Tyas, Joko (yang datang tak diundang- karena emang gak cetak undangan- pulang minta diantar-idiiiiih manja banget deh), Ningnong ning gung, dan Codot & Susi (bukan nama sebenarnya) yang tiba-tiba nongol mengejutkan kami. Suasana pun semakin pecah dan ramai. Malam ini, menjadi malam yang cukup ceria untuk bulan September yang seharusnya memang ceria. 

Terlalu banyak kegilaan malam ini, melepaskan sejenak semua beban kehidupan. Menikmati sedikit demi sedikit minuman dalam gelas masing-masing, potong demi potong pizza yang telah dipilih dengan cara "pakpaktung", menanggapi canda dengan tawa... Hmm, ya... tiada kata yang paling indah selain "alhamdulilah". 

Waktu sudah pagi pukul 0:31 WIB ketika aku mengetik tulisan ini. . Cukuplah aku mengomel??? 
Terimakasih untuk semua, semoga kita masih bisa berjumpa lain kesempatan. :)





Lihat, Dengar, dan Rasakan Alam Pantai Nglambor


Ketika macetnya perjalanan perlahan berubah menjadi hamparan alam nan elok, saat itulah waktu yang tepat untuk melupakan semua penat beban kehidupan dan menyempurnakan jiwa demi kenikmatan surga dunia. 

Itulah yang dapat kurasakan ketika mulai memasuki Pantai Nglambor, pantai mungil yang terjaga oleh tebing gagah. Udara alam menyejukkan indra penciuman yang sejak lama selalu dijejali asap kenalpot, polusi, dan debu kotor. Kini, biarkan dia menghirup nafas kehidupan alam yang sesungguhnya. Ombak pantai seolah melambai dengan gemulai, mengajak diri ini untuk segera bermain dengannya. Suaranya yang lirih seperti berbisik, “Ayo cepat turun, tunggu apa lagi?” membuatku tak tahan untuk segera menuruni bukit dan berbasahan di bawah sana. Pemandangan alam khas pantai di depan mataku, telah mengirimkan sinyal ke otak agar mengomando tangan untuk meraih kamera karena ia terlalu sayang untuk dilewatkan.
Satu lagi ciptaan Tuhan yang wajib didatangi bagi pecandu wisata alam. Pantai baru yang masih menjadi wilayah konservasi ini terletak di Desa Purwodadi, Kecamatan Tepus, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Hanya dengan membayar Rp 10.000 para wisatawan dapat menikmati pantai berpasir putih ini. Tak hanya itu, Pantai Nglambor semakin menunjukkan kelebihan dengan disediakannya fasilitas snorkling yang hanya perlu biaya sewa peralatan senilai Rp 35.000.
Perjalanan menuju Pantai Nglambor cukup panjang, setidaknya memakan waktu tiga jam tanpa macet dari Kota Jogja. Hingga saat ini belum ada papan penunjuk arah ke pantai Nglambor dan penduduk sekitar pun belum banyak yang mengetahuinya. Namun, jangan khawatir karena Pantai Nglambor terletak di antara Jogan dan Siung. Bila sudah mendekati Siung barulah banner penunjuk Pantai Nglambor dapat terlihat. Memasuki jalan menuju Pantai Nglambor Anda akan disambut oleh jalanan bebatuan yang ekstrem. Laluilah jalan terjal itu hingga selesai, karena di depan sana sebuah keanggunan alam membentang dan akan membayar lunas peluh ketika berjuang menggapainya. 
Pantai  Nglambor tak begitu ramai ketika aku mendatanginya, hanya ada puluhan motor berjejer dan sedikit orang bermandian di bawah sana. Sepinya Pantai Nglambor membuat diri leluasa menikmati keindahan alam tanpa harus berebut tempat dengan wisatawan lain. Meski terbilang baru, pantai yang berbatasan langsung dengan Samudra Hindia ini telah memiliki fasilitas toilet untuk membersihkan diri seusai mandi di pantai. Beberapa warung makan pun siap memadamkan kelaparan para wisatawan yang telah puas bermain.
Tanpa terasa, matahari harus beranjak menyinari belahan bumi yang lain. Aku pun tak punya kuasa pada sang waktu. Redup sinar senja mengiringi perjalanan pulangku. Alam selalu punya alasan untuk membawa kita kembali mendatanginya, begitu pula Nglambor, kunjungilah ia sekarang karena mungkin esok sudah berubah wajah. Salam dolan.

Sheilagank Solo Pandawa Lima Berbagi

Adalah suatu kesenangan tersendiri, bisa bergabung dengan sheilagank solo Pandawa Lima (komunitas fans sheila on 7 dari kota Solo) dalam acara bagi-bagi takjil (12/07). Mungkin ini adalah pertama kali dalam hidup aku bisa merasakan asiknya sebar takjil di bulan puasa. Yaa... Memang, segala sesuatu akan datang masanya, maka selagi bisa selagi ada kesempatan, nikmati itu dan berikan yang terbaik.

Jujur saja, aku senang bisa berkumpul dengan anak-anak SGPL lagi, ada rasa rindu yang terobati ketika melihat senyum tawa canda mereka. Sebuah ikatan emosional yang tumbuh dengan alami. Sayang hanya sejenak, karena aku harus kembali ke Jogja (meski gagal gara-gara ketinggalan kereta).

"Someday, we will meet again". Bisik hatiku menenangkan.

@Wakisikun. Ditulis di kereta Sri Tanjung. 14 Juni 2015. NA.

Bangun

Hidup ini keras, sayang. Bangunlah.
Bisiknya padaku lirih pagi ini.

Yk, 04 Juli 15. NA.

Sepotong Kenangan Dari Dieng

Sebuah cerita kembali kutulis dengan sepenuh hati dan cukup mengorek memori. Jika dalam cerita berikut ini ada yang terlewatkan maka jangan protes karena aku takkan merevisinya jadi lebih baik kau berikan komentar pada kolom yang tersedia. Juga aku mengharap pemakluman dari pembaca yang budiman karena memori dalam ingatan ini sudah usang dimakan waktu.

Mei lalu tepatnya tanggal 16-17 2015, acara dolan kembali diadakan. Masih bersama sheilagank, karena barangkali dengan mereka aku bisa bahagia, dan tempat wisata yang kami tuju adalah Dieng. Ada yang berbeda pada acara dolan kali ini, karena sheilagank yang ikut bukan hanya dari Jawa Tengah saja tapi juga ada yang datang jauh-jauh dari Jawa Timur, tepatnya Surabaya. Sebutlah namanya Sukar dan Sukur, haha.. Oh, maaf aku mulai gila.

Yaps, Dieng, tempat wisata yang sudah pasti banyak orang mengetahui dan dikunjungi atau bahkan sudah banyak orang yang berkali-kali datang ke tempat wisata menawan ini.
Namun ini baru pertama kali aku mendatanginya, alasannya adalah satu yaitu penasaran. Mengunjungi tempat baru adalah hobiku dan syukurlah, dalam rombongan sheilagank dolan ini banyak yang belum pernah ke Dieng. Sebuah perjalanan akan mengobarkan api semangat jika kita memiliki tujuan dan keinginan yang sama. Begitupun kami, hanya delapan dari dua puluh lima anak yang pernah ke Dieng.

Sebelum bercerita sangat jauh, izinkanlah aku untuk membocorkan sebuah cerita menggelitik yang terjadi saat H-7 menjelang acara dolan. Malam itu waktu menunjukkan sekitar pukul 20.00, sebuah pesan di grup Whatsapp muncul dengan tiba-tiba dari seseorang yang jauh di sana, sebut saja namanya Budhi (asli nama sebenarnya).
“Dari Galerria ke mana?” Isi pesan itu
“Lurus aja, Mas, nanti udah nyampe Tugu”. Jawabku lugu
“Oke”. Balasnya
Otakku loading sejenak, lalu berfikir mengapa Kak Budhi bertanya demikian. Lalu aku pun bertanya,
“Mas Budhi mau ke mana?”
“Aku sudah di Tugu ini, kumpulnya di sebelah mana?”
Seketika tawaku lepas tak terkendali, antara kasihan dan geli mengetahui kejadian ini. Tanpa pernah kuduga dan kubayangkan, kok ya ada satu anak salah hari dan dengan PeDenya mengenakan kaos Musim yang Baik, mengendarai motor sendiri dari Solo ke Jogja untuk berangkat ke Dieng mengira bahwa hari itu adalah waktu piknik. Entah jin apa yang merasuki Kak Budhi atau ia terlalu senang sehingga membuatnya lupa anak istri.... eh maksudku hari. Dia pun bercerita bahwa sebenarnya ada satu acara yang dia batalkan pada malam itu gara-gara ia ingin ikut dolan. Sesampainya di Jogja, ia memutuskan untuk langsung ke Tawangmangu. Namun jam telah menunjukkan pukul 22.00, berbahaya dan ‘ngenes’ jika Kak Budhi harus pulang tanpa dendam. Maka, ia pun menginap di kos Udin setelah membeli enam gantungan kunci. Kami masing-masing dibelikan dua gantungan kunci oleh Kak Budhi. Baiknya ya Kak Budhi.. jangan panggil dia Budhi jika tak membuat orang lain senang. “Di manapun kau berada, selalu membuat kami tertawa”. Untuk yang penasaran dengannya, ini foto ketika kami bertemu di nol kilometer Yogyakarta. 
Udin - Niken - Kak Budhi

======= next

Narsis dulu di Tugu Yogyakarta
Hari Bersamanya pun tiba, sebuah hari yang kami tunggu kami nanti dan akan menjadi salah satu hari yang kami rindukan suatu hari. Pasukan telah berkumpul, total tiga belas anak dengan rincian dua dari Jawa Timur (Aulia dan Masrur), satu dari Solo (Ikhsan tanpa Kak Budhi), satu dari Klaten (Mas Edi), dan sembilan dari Jogja (Aku, Udin, Wawan, Atin, Aisyah, Ian, Tyas, Yusup, dan Anis). Kami berkumpul di Tugu Jogja, briefing, dan berpose sebentar untuk sekedar mengabadikan kenangan, lalu jam 22.30 kami menuju alun-alun Wonosobo. 
Sementara kawan dari Semarang sudah sampai di lokasi sejak sore hari. Sisanya sang tuan rumah Wonosobo dan Banjarnegara menunggu dengan setia di alun-alun Wonosobo. Selama perjalanan ke Wonosobo sangat lancar, tak ada rombongan yang tercecer dan ketinggalan seperti saat dulu, karena kali ini kami mengatur barisan dengan sangat rapi dan setiap motor diberi nomor antrean, hehehe. Thanks to Masrur untuk idenya. 



Seperti yang telah diprediksikan kami tiba di alun-alun pukul 01.00, jalanan sangat sepi dan kami terhindar dari macet. Meski kami sedikit waswas karena harus menelusuri jalan di malam hari, syukur alhamdulilah, doa mengawal perjalanan kami sehingga kami selamat sampai alun-alun tanpa halangan apapun.
Sesampainya di alun-alun kami bertemu dengan rombongan sheilagank Banjarnegara. Perkenalkanlah mereka Adi, Sucipto, Indah, Anisa, Firman, Tyas, Eron, teman Eron, dan Ardi. Setelah berjabat tangan, kami istirahat sebentar, berpose, sedangkan aku mojok dengan Aulia (makan, haha, maklum, kawan baruku yang satu ini penderita maag akut jadi tak boleh telat makan). Sehabis makan, kami kembali bertingkah di depan kamera.
Ian & Udin minum air langsung dr kran
Perjalanan ini jauh dari usai, maka kami harus kembali mengendarai motor untuk menuju kawasan wisata Dieng. Dinginnya udara malam Wonosobo menusuk kulit hingga ke tulang, kami kedinginan. Ditambah aku tak membawa jaket tebal karena ia tertinggal di Solo. Di sinilah cerita gawat mulai muncul. Motor Yusup bensinnya menipis, sangat tipis, jarumnya sudah berada pada titik kritis. Selama perjalanan kami terus mencari dan terus mencari POM Bensin atau pedagang eceran namun tak satupun yang buka. Jalan sangat sepi dan pemandangan kanan kiri adalah sunyi. Kami terus melanjutkan perjalanan. Sampai di rumah Lukman, di jalan akan masuk rumahnya ada pedagang bensin tapi tutup. Karena motor kami sangat membutuhkan asupan energi kami mengetuk pintu penjual bensin eceran itu. Syukurlah, masih ada beberapa liter bensin untuk menghilangkan dahaga si motor dan kecemasan kami. Perjalanan pun dapat kami lanjukan.

Berebut Api Unggun
Sekitar jam 03.00 akhirnya kami sampai di lokasi. Menjumpai api unggun yang masih hangat, kami seperti menemukan harta karun dan berebut mendatanginya untuk menghangatkan badan. Adi mencatat nama-nama pasukan untuk diabsen. Semua lengkap dan tak ada yang kurang. Setelah berjumpa dengan rombongan dari Semarang kami mendaki bukit Sikunir. Mendaki bukit ini yang ada hanyalah gelap dan ramai akan sangat yang berbahaya jika sampai kami terpisah. Untung saja, kami membawa cukup senter dan HP berisi lagu sheila on 7. Kami putar lagu sheila on 7 sekaligus sebagai tanda bahwa kami harus mengikuti suara itu. Ini cara kami agar tetap sejalan. Sesekali kami berhenti untuk absen ulang rombongan. Apakah lengkap? Tidak. Ada beberapa nama yang hilang entah ke mana. Mungkin di depan, bisa juga di belakang, well, kami pun Jalan Terus namum pada akhirnya kami yang terpisah bisa berjumpa kembali gara-gara lagu sheila on 7.

Jam 04.00 kami sampai puncak, menunggu sunrise yang kata orang sangat indah. Sambil menunggu sunrise kami duduk manis dan menyanyikan lagu kebanggaan kami apalagi jika bukan lagu sheila on 7. Suara koor dari atas Bukit Sikunir ini membuatku bahagia, bahkan saat aku membuat tulisan ini, rasa-rasanya aku ingin kembali ke sana, melantunkan lagi dan lagi lagu kesayangan bersama kalian.
Sang fajar yang dinanti telah memunculkan tajinya dari timur. Kami berebut mengabadikan pemandangan indah ini. Warna oranye kekuningan mentari membuat langit sangat cantik. Semakin lama, semakin terlihat awan-awan putih yang membuat Sikunir semakin menakjubkan. Sebuah pemandangan yang memanjakan mata, membuat kami ingin di sana berlama-lama. Sebuah pemandangan yang elok telah membayar lunas perjalanan jauh kami. Sebuah pemandangan yang luar biasa, tak dapat membendung hasrat kami untuk bergaya di depan kamera. Inilah beberapa karya dari atas Bukit Sikunir. 









Waktu masih pagi, jam menunjukkan pukul 08.00. Kami memutuskan untuk turun karena telah puas bersenang-senang di ketinggian Bukit Sikunir. Tempat wisata tujuan kami selanjunya adalah Bukit Ratapan Anak Tiri, hehe... begitu kami memelesetkannya. (Bukit Ratapan Angin, nama sebenarnya). Tiket masuk ke lokasi ini adalah Rp 10.000. Dari Bukit Ratapan Anak Tiri ini, kami bisa melihat Telaga Warna dari atas seperti foto-foto yang beredar di google. Cukup indah, namun sayang, aku sudah kehabisan tenaga dan yang kurasai hanyalah lemas. Cuaca panas, kontras dengan malam hari di Sikunir. Maka, sejenak kulepas lelahku di sini.

Sedang kawan yang lain asyik bergurau dan yah apalagi jika bukan jeprat jepret. Pemandangan yang indah dan momen-momen langka seperi itu memang harus dibidik oleh kamera. Sekitar tiga puluh menit aku isirahat, kubuka mataku dan aku berlari menghampiri mereka untuk ikut berfoto, hahaha.. Aku sudah hidup kembali. Tapi aku butuh nasi, maka aku, Adi, panglima Atin, dan entah siapa aku lupa, memutuskan untuk turun sedang Tyas, Anis, Udin, Iksan, Aulia, Masrur, dan sisanya masih menggelora hasratnya menjelajahi Buki Ratapan Anak Tiri ini. Setelah puas, mereka juga turun untuk mengisi perut yang sudah rewel. Sebuah kelucuan kembali terjadi, satu-satunya lelaki yang berambut gondroooong dalam rombongan ini dipanggil Mbak oleh seorang ibu, ibu itu mengira bahwa Mas Firman adalah wanita. (Mas, gak punya niat buat potong rambut setelah ini? Atau cukup senang dengan nama baru Mbak Fira? Ckckck)



Waktu beranjak siang, kami memutuskan untuk pulang. Namun sebelum pulang, kami harus dan wajib mampir ke rumah Lukman, karena semalam rencana ini batal lantaran waktu terlalu mepet. Sampai di rumah Lukman, kami berisirahat dan tidur sangat lama. Hampir semua anak tidur, kecuali aku, Mas Firman, Wawan, dan Tyas. Di saat mereka nyenyak tertidur, naluri jahilku hidup kembali. Aku memotret mereka dan mengunggah foto di grup. Maaf ya kawan, naluri ini tumbuh tak terkendali. :p 


Adzan Dhuhur menggema, kami menjalankan ibadah lalu berencana untuk pulang karena perjalanan pulang cukup memakan waktu ditambah sepaket bonek Surabaya harus segera pulang agar dapat berakifitas seperti biasa esok hari. Jam 14.00 kami memutuskan untuk tinggalkan Lukman sendiri, kasian deh loo... emang enak ditinggalin? Makanya pindah Jogja aja. Week.. :p 

Karena tak ingin sendiri dan tak ingin kesepian, Lukman menahan kami dengan makanan. Yaps, kami disogok dengan hidangan istrinyewa (baca : isimewa) sehingga tak jadi pulang. Makanan sudah habis, Lukman tak punya ide dan alasan lagi untuk menahan kami. Sebagai kenang-kenangan, kami berpose lagi di rumah Lukman, beberapa jepretan terambil, meski dengan penuh perjuangan karena batre kamera sudah habis. 

 

Lukman, kami pami pulang ya, terimakasih untuk jamuannya dan kebaikan hati menampung anak-anak bolang yang kelelahan ini untuk pejamkan mata. Maaf, kami harus pulang membiarkanmu kesepian karena tak ada lain pilihan.


Kupikir, inilah waktu yang tepat untuk berpisah...... dan kami harus benar-benar mengakhiri hari indah ini, tapi Wonosobo masih punya satu alasan untuk menahan kami. Mbak Ida. Perkenalkanlah kakak cantik yang satu ini, dia memang tak ikut piknik namun ia ingin menemui kami di Alun-alun Wonosobo. Kami berjumpa dengannya, berjabat tangan, dan Mbak Ida menggiring kami ke suatu tempat untuk ngopi. Karena ini adalah acara sheilagank, maka di tempat ngopi pun panglima Atin me-request lagu sheila on 7. Sayang, hanya diputarkan satu lagu, pelit deh. Kami masih ngobrol ke sana ke mari dan tak terasa minuman di cangkir telah habis. Adzan Ashar berkumandang, waktu sudah sore. Kali ini kami benar-benar harus pulang. Surabaya, Jogja, dan Solo menunggu kami untuk kembali.
Ngopi
Perjalanan pulang tak semulus saat berangkat, karena hari sudah mau malam, kami harus cepat sampai Jogja, sepaket bonek Surabaya harus cepat-cepat pulang, kondisi kami yang sangat lelah dan hanya kasur yang ada dalam otak membuat kami hilang kendali. Hilang-hilangan di jalan dan tercerai berai. Hp lowbat, pulsa habis, komunikasi tak lancar. Di saat seperti ini, feeling lah yang kami andalkan. Sesampainya di Magelang, kami terpisah menjadi dua, Ikhsan dan Mbak Atin lewat jalur Borobudur sedangkan aku dan mayorias rombongan lewat jalan lain. Namun syukurlah, kami tiba di Jogja dengan selamat.
Sebuah petualangan yang menyenangkan ini resmi berakhir, kami memiliki cerita baru, teman baru, keluarga baru, kami saling mengenal, semakin akrab, dan kami punya pengalaman baru. Hari ini telah terukir indah dalam hati dan kenangan kami masing-masing. Jika kemarin kami masih ragu, malu, dan sungkan untuk bersapa, namun kini.... semua gila.  #SalamDolan. :D

Terimakasih sudah membaca, jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar agar hidupmu bahagia.

Yogyakarta, 19 Juni 2015. NA.


Kota Perang



Pagi yang mencekam. Lagi-lagi terdengar suara bom di sana-sini. Lagi-lagi terdengar suara tembakan berkali-kali. Lagi-lagi terdengar suara jeritan wanita-wanita tiada henti. Lagi-lagi terdengar tangisan anak-anak yang tak mengerti apa yang sedang terjadi. Di sana api, di sini api. Di sana darah di sini darah. Api merah menyala bercampur dengan darah menghiasi kota yang semestinya memberikan keindahan tiada tara.  Kota ini memberikan kepedihan tiada tandingan. Kota ini telah indah dengan perang yang mengerikan. Sebuah suasana kota yang menakutkan seolah tiada harapan untuk dapat merasakan kegembiraan esok hari. Jangankan untuk gembira, untuk dapat bernafas detik nanti saja adalah anugrah luar biasa. Kota yang mengerikan, jika saja aku dapat pergi aku pasti sudah pergi sejak dulu tanpa perlu menunggu waktu.
Namun aku telah terbiasa dengan ini semua. Aku lahir bersamaan dengan tewasnya lima puluh lima warga di kota ini akibat ledakan bom. Aku lahir disambut oleh ledakan bom. Huh, kadang aku merasa itu lucu, seolah satu anak yang belum tentu berguna sepertiku dapat menggantikan lima puluh lima nyawa yang melayang. Aku telah terbiasa dengan situasi mencekam seperti ini, karena aku hidup, tumbuh dewasa beriringan dengan suara-suara tembakan dari para musuh yang tak kenal ampun. Semua yang ada di hadapannya ditembak sampai mati. Tak peduli tua, muda, anak-anak dewasa, laki-laki perempuan, semua menjadi sasaran peluru. Seolah kami adalah benda mati, boneka percobaan yang tiada guna hidup di kota ini. Aku telah terbiasa hidup dengan jeritan, tangis, ratapan,

Perjalanan Sheilagank menuju Pantai Nglambor : Pantai mungil yang tak dikenal orang.


“Asik itu adalah ketika mereka berteriak aaaaaaa....... saat ombak besar menghantam tubuh kami dan membasahi baju yang kering”

Ombak, satu elemen yang hanya terdapat di pantai, yaps.. tanggal 1 Januari 2015 kemarin aku dan teman-teman Sheilagank mengunjungi pantai Nglambor, sebuah pantai yang tidak terkenal di Yogya dan oleh karenanya aku penasaran ingin mencari tahu seperti apa pantai itu. Pantai Nglambor terletak diantara pantai Jogan dan Siung. Maka ketika hendak ke sana, arah yang dituju adalah pantai Siung.

Total 16 manusia berangkat ke Nglambor, siapa saja kah mereka? Dari Yogya ada aku dan adikku Siwi, Yulvan, Gigih, Ian, Atin, Yusup dan kawannya, sedang dari Solo ada Paijo, Tri Hendi dan adiknya, Dar, Udin dan kakaknya, Wawan, sedang dari Wonosari ada Aas. Banyak sekali cerita yang membuat emosi, tertawa, marah, jengkel, senang, dan menguji kesabaran. Baiklah, aku akan ceritakan dari awal. Rombongan dari Yogya berkumpul di Ringroad Wonosari jam 8.30 tepat, lebih awal dari rencana yaitu jam 9.00. Yusup yang tadinya mungkin sedang bersantai langsung meluncur ke Ringroad, aku selesai sarapan juga langsung menuju kos Mbak Atin untuk menggondolnya. Karena aku juga membonceng adikku, maka dari kos menuju Ringroad aku berboncengan tiga. Sementara Yulvan yang mengeluh tak enak badan kurayu untuk berangkat. Ia pun berangkat bersama Gigih, namun agak menelatkan diri. Sedang Ian, yang menunggu di JEC juga kuhampiri untuk bisa bergabung dengan teman yang lain.

Beruntungnya Aku : Dapat CD Musim Yang Baik Gratis.




Mungkin memang sudah rezekiku kali ya, tanpa disangka tanpa dikira aku mendapat CD Sheila on 7 album terbaru (Musim yang Baik) secara cuma-cuma alias GRATIS. Bukan karena ikut kuis ataupun menang lotre, aku bisa mendapatkan CD ini gratis dan gak bayar satu sen pun. Padahal aku sudah berencana akan membeli CD Musim yang baik kalau gajian bulan Desember kuterima. Padahal aku sudah menentukan tanggal hunting CD tersebut dengan Mbak Atin. Tapi, takdir berkata lain, mau diapakan lagi, aku hanya bisa menerima. (Iya lah, namanya dikasi kalau gak diterima bego banget kan?)
Kok bisa sih, Ken? Pasti ini menghantui pikiran pembaca yang budiman. Bagaimana ceritanya bisa mendapatkan CD ini? Ceritanya sangat mengagetkan, seperti aku yang juga kaget akan kejutan ini.
Hari itu tanggal 25 Desember 2014, aku sedang sibuk mengonfirmasi permintaan pertemanan facebook, tiba-tiba seseorang menyapa lewat inbox, namanya Edi, ia meyampaikan rasa terimakasihnya karena sudah diterima sebagai teman facebook-ku. Sebagai orang yang terlahirkan memiliki hati yang baik, maka aku pun membalas sapaan dan terimakasih itu. Kami mengobrol sewajarnya. Dari hasil obrolan itu, sampailah pada album Musim yang baik. Berikut cuplikan singkatnya.

Sheila on 7 : Lirik Buka Mata Buka Telinga

Apa lagi yang harus kulakukan?
Untuk hidup yang kadang membingungkan
Sepi di sore mendung mengurungku
Dalam ruang mencemaskan detik yang datang
Sayup terdengar burung bernyanyi
Sajian nikmat mengubur ketakutan
Perlahan tegaskan hati mencoba mengisi hari

Membuka mata dan telinga
Menggali sejuta rahasia
Hidup ini yang penuh kejutan
Ada alasan mengapa kita diciptakan

Sejenak kusempat mempertanyakan
Mengapa hidup terkadang membingungkan?
Yang salah dibenarkan begitu pun sebaliknya
Kebajikan luntur oleh keburukan

Sayup terdengar burung bernyanyi
Mencoba mengisi hari

Membuka mata dan telinga
Menggali sejuta rahasia
Hidup ini yang penuh kejutan
Ada alasan mengapa kita diciptakan

Perjalanan ini  jauh dari usai
Selama nafas masih ada
Sentuhanku pada dunia
Untuk hidupku dan juga hidupnya
Membuka mata dan telinga
Ada alasan megapa kita diciptakan

*jangan lupa beli CD aslinya ya, stop beli bajakan. Thanks

PERNAK PERNIK KONSER SHEILA ON 7, 13 DESEMBER 2014.

Kusajikan cerita dalam tiga babak. Area Opening, Area Sheila on 7, dan Area Sheilagank. Pada masing-masing area sudah kuberi peringatan gak penting, sangat penting, dan penting. Jadi, aku sarankan untuk melewati yang tidak penting dan baca saja yang sangat penting. Selamat membaca.

>>>> Area Opening (gak penting)
Ini adalah konser keXX yang penah kutonton. Akhirnya kembali lagi mengunjungi GOR UNY setelah sekitar dua tahun tidak ke tempat ini untuk menonton konser dan dua kali membatalkan diri untuk bersenang-senang dengan kawanan Sheilagank. Ketika waktu menunjukkan pukul 19.00, suasana masih sepi, mungkin karena memang masih jam tujuh. Tapi antrean parkir cukup panjang meski tidak sampai keluar gerbang depan. Aku ada diantara mereka. Kulihat sekeliling ada banyak anak-anak yang mengenakan kaos merchandise Sheila on 7, yaps merekalah Sheilagank, namun sayang aku tak mengenali mereka. Selesai parkir aku menuju stand merchandise karena akan bertemu dengan kawan-kawan di sana untuk banyak urusan seperti pengambilan tiket, just say hello, beramah-tamah, dan jadi calo tiket.

13 DESEMBER 2014, SEBUAH PROLOG.



Hai, selamat membaca kembali cerita dari Untaian Aksara. Kali ini aku akan menceritakan dari awal hingga akhir tentang apa-apa yang terjadi pada tanggal 13 Desember 2014. Tepat pada hari Sabtu, dan besoknya libur alias weekend. Yap, kali ini aku baru tahu nikmatnya saat weekend itu, karena ketika menjadi pelajar khususnya mahasiswi semua hari bagiku sama, libur bisa hari Senin, sibuk bisa hari Minggu. Tapi ketika menjadi pekerja, rasanya beda, Minggu adalah hari libur dan tanggal merah benar-benar hari tidur. Aku merasakan betapa nikmatnya weekend.
Pagi ini aku berangkat ke kantor dengan sangat bersemangat, penyebabnya komplikasi, pertama karena pada malam harinya aku mau nonton konser sheila on 7, kedua tema blogku baru dan aku sangat suka dengan warna dan tampilan yang simple. Tampilan yang kece ini mendorongku untuk terus mengisinya dan mengisinya. Tempat yang nyaman memang menyenangkan, maka jadilah orang yang bisa membuat orang lain nyaman saat berada di dekatmu, agar mereka merasa senang di sampingmu. *ealah, salah fokus. Tapi memang benar sih, aku sekarang jadi semangat buat ngeblog gara-gara tampilan baru ini. Ketiga, karena hari ini hari Sabtu, aku boleh masuk pagi dan pulang kerja jam 15.30, lebih awal satu jam dari biasanya. Tiga hal itulah yang membuatku cengengesan di jalanan.
Sampai di kantor seperti biasa aku adalah orang pertama yang memancing

Susahnya Cari Kerja



Haloooooo.... ini dia curhatan seorang fresh graduate yang habis berperang di kota pahlawan. Ternyata nyari kerja itu susssaaaaaahhhhhh bangeeeett...
Oke, cerita kali ini akan diawali dengan berangkatnya aku dan dua teman seperjuanganku ke Surabaya tanggal 2 Oktober 2014. Beberapa minggu sebelum wisuda aku sudah mendapat informasi bahwa akan ada Jobfair di UPN tanggal 3-4 Oktober 2014. Informasi akurat ini aku peroleh dari website Surabaya jobfair. So, tanggal 2 Oktober kami bertiga berangkat dengan naik kereta Logawa ke kota pahlawan tersebut. Sampai di sana kami menginap di kos temanku, Winarti. Lalu keesokan harinya barulah kami mendatangi kampus UPN. Tanda tanya besar hinggap di kepala kami masing-masing, kampus ini tampak sangat sepi dan tidak ada tanda-tanda bahwa ada jobfair. Untuk menjawab kebimbangan kami, maka  aku bertanya pada Pak Satpam setempat, dan apa jawaban dari Pak Satpam tersebut???

Sedikit Cerita Tentang Kerja



Ternyata melelahkan ya? Hari pertama kerja, rasanya seperti dihujani banyak informasi yang membuatku mabuk. Pertama, aku belum tahu banyak tentang tujuh produk yang tentu memiliki kelebihan dan karakteristik masing-masing. Ada penjelasan masing-masing yang aku bener-bener gak tahu apa-apaan itu. well, aku pun disuruh bikin blog, nah di blog itu aku diperkenankan bahkan dipasrahi untuk ‘mengopeni’ blog sebagus mungkin. Bagus dari segi visual maupun konten. Sebuah PR yang sangat luar biasa menantang. Apalagi kalau dilihat ini adalah blog yang sangat baru, ibarat anak ialah bayi yang baru lahir, masih polos dan belum tahu apa-apa.
Karena aku bego, maka bergurulah aku pada Mbah Google yang sangat pinter. Jadi ceritanya, tadi di tempat kerja aku bukan bekerja tapi belajar, gak keren juga belajarnya, belajar ngeblog. Payah ya? Ya habis gimana lagi, lha wong selama ini aku ngeblog sekedarnya aja, alias gak terlalu banyak menampilkan konten yang mengganggu, karena jujur saja aku sih risih kalau di blogku itu terlalu banyak ornamen. Bikin pusing, ribet. Haha...
Niken Ayu. Diberdayakan oleh Blogger.