Gembel

jika aku kaya, aku pasti tidak akan di sini

barangkali aku akan jalan-jalan ke mall

menghabiskan lima juta uangku

hanya untuk sepasang sepatu

seandainya aku kaya

aku pasti tidak akan di sini

di tempat yang berbau busuk ini

berteman ketakutan, akan satpol pamong praja

yang bisa menerkamku sewaltu-waktu

lalu menggelandangku dengan mobil berpagar jeruji

katanya keberadaanku dianggap mengganggu

bikin kotor kota

mengganggu penglihatan mata

juga berisik bagi telinga

jika aku kaya

orang-orang pasti menghormatiku, memujaku, dan memberikan senyum mereka dengan cuma-cuma

bukan tatapan sinis ataupun kebencian

kadang aku tak mengerti

mengapa mereka tak suka bahkan jijik terhadapku

padahal bukan keinginanku menjadi begini

tapi mau diapakan lagi?

toh mereka yang katanya peduli justru membuang muka

menyelamatkan wibawanya.

 

 

Surabaya, 10 Maret 2014.

 

Niken Ayu


Aku Berkata Tentang Cinta

 Cinta itu hati yang menilai

hati pula yang dapat merasakan

cinta tak dapat kau paksakan

pun tak dapat kau tolak

cinta seperti maut

ia tak dapat diminta

tak dapat pula dihindari

karena cinta datang dari hati terdalam

cinta tak pernah salah

ia indah, selalu mesra seperti lembutnya angin

cinta yang tulus tak pernah mengharap apa pun

karena cinta cukup untuk cinta.

Semu

terlalu banyak nama yang menjadi wajah-wajah manusia

namun tak satu pun yang utuh menterjemahkan wujudmu maisku

burung kelelawar mulai berterbangan di langit

perlahan menjadi gelap di laut ini

betapa pun bayangmu nyata

tapi kalbu ini tak mampu meraihmu

Kartini

Seseorang yang menginspirasi Kartini adalah Pandita Ramabai, wanita Hindu yang gagah berani. Ia mempelopori perlawanan terhadap nasib buruk para janda, bahwa menurut adat seorang janda adalah kutukan dan kehinaan karena ialah yang menyebabkan kematian suaminya, tak tahan oleh penderitaan itu Ramabai pergi ke hutan, namun di tengah jalan ayahnya tak kuat lagi melanjutkan perjalanan, hingga ia memutuskan untuk menghabiskan sisa umurnya dalam kolam suci. Wanita India yang beragama Hindu tak diperbolehkan membaca Veda, dan saat seorang sudra salah membaca Veda ia tak luput dari hukuman, yaitu dituang telinganya dengan besi panas. Kezaliman orang terhadap dirinya kemudian ditulis sebagai otobiografinya dan tersiar ke seluruh dunia. Kartini membaca dalam bahasa Belanda.

Ramabai meninggalkan negaranya menuju Inggris dengan biayanya sendiri dari honornya menulis buku otobiografinya sendiri. Dari Inggris Ramabai pergi ke Amerika untuk kuliah bahasa sansekerta. Sepulangnya kembali ke India ia mendirikan sekolah untuk perempuan dan gadis golongan biasa.

 

Quotes Anak Semua Bangsa oleh Pramoedya Ananta Toer

 Aku telah sanggup memutuskan suatu perkara pelik, memisahkan belas kasihan daripada kejahatan, meleraikan yang salah dari yang tidak- memenangkan suatu azas. Lebih dari itu: aku telah mampu mengatasi kelemahan hati sendiri, mengatasi sentimen yang tidak pada tempatnya. Dan aku nilai ini sebagai suatu kemenangan pribadi. Minke-

Di mana pun ada yang mulia dan jahat. Di mana pun ada malaikat dan iblis. Di mana pun ada malaikat bermuka iblis dan iblis bermuka malaikat. Dan satu yang tetap, abadi : yang kolonial, dia selalu iblis. Kau hidup dalam alam kolonial. Kau tak dapat menghindari. Tak apa, asal kau mengerti, dia iblis sampai akhir zaman dan kau mengerti dia memang iblis. Nyai Ontosoroh

Karena kau menulis, suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh di kemudian hari. 

Ilmu pengetahuan odern mengusik siapa saja dari keamanan dan kedamaiannya. Juga manusia sebagai makhluk sosial dan sebagai individu tidak lagi bisa merasa aman. Dia dikejar-kejar selalu, karena ilmu pengetahuan modern memberikan inspirasi dan nafsu untuk menguasai: alam dan manusia sekaligus. Tak ada kekuatan lain yang bisa menghentikan nafsu berkuasa ini kecuali ilmu pengetahuan itu sendiri yang lebih unggul, di tangan manusia yang lebih berbudi.-Minke

Kehidupan ini seimbang, barangsiapa hanya memandang pada keceriaannya saja, ia gila. Barangsiapa memandang pada penderitaanya saja, ia sakit. Tuan Kommer

Tidak seharusnya orang melihat keceriaan dan derita sebagai suatu keseimbangan. Kan kehidupan lebih nyata daripada pendapat siapapun tentang kenyataan?

Pengarang yang baik seyogyanya dapat memberikan kegembiraan pada pembacanya bukan kegembiraan palsu, memberikan kepercayaan hidup ini indah. Jangan pembaca itu dijejal dengan penderitaan tanpa kepercayaan bahwa seberat-beratnya penderitaan juga bisa dilawan, dan begitu dilalui bukan saja hilang bobotnya sebagai penderitaan, malah terasa sebagai lelucon. 

Menggiring diri sendiri pada sarang cacar sama gilanya dengan takluk pada sang penderitaan. Selama penderitaan datang dari manusia, dia bukan bencana alam, dia pun pasti bisa dilawan oleh manusia. 

Dapat menikmati hidup dengan keindahannya, juga tidak menutup mata terhadap borok-boroknya. Dibutuhkan kekuatan, keras, dan kukuh untuk membikin terobosan dari satu ton tindasan penderitaan. 

Melarikan diri adalah kriminal. Sia-sia semua pendidikan dan pengalamanmu

Sahabat dalam kesulitan adalah sahabat dalam segala-galanya. Jangan sepelekan persahabatan. Kehebatannya lebih besar daripada panasnya permusuhan.

Sepandai-pandainya lelaki, kalau sedang gandrung dia sungguh sebodoh-bodohnya si tolol.

Semua yang terjadi di bawah kolong langit adalah urusan setiap orang yang berfikir. 


Junk diambil dari bahasa Portugis junco yang berarti perahu bercadik. Portugis mengambilnya dari bahasa Jawa kuno jong atau jung. Kita bisa bersikeras bahwa itu adalah sumbangan Indonesia kepada bahasa Eropa, sebab tak ada Jawa yang bukan Indonesia kecuali di Suriname. Sayangnya, kata jong sendiri, meski ada di buku sekolah dasar, tidak tercatat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Ayu Utami-Bahasa!

 

Pada masa sulit ini mobil berjejer di pinggir jalan, hampir semuanya di jual dan tidak ada yang dijual. Kita tidak peduli lagi pada proses pengalihan bunyi menjadi aksara, jadi untuk apa membeda-bedakan kata depan dan awalan?" (Tamasya Bahasa, Supardi Djoko Damono)

 

Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri bersuka karena usahanya sendiri dan maju karena pengalamannya sendiri.” (Nyai Ontosoroh)

 

Juga jangan jadi kriminil dalam percintaan yang menaklukan wanita dengan gemerincing ringgit, kilau harta dan pangkat. Lelaki belakangan ini adalah juga kriminil, sedang perempuan yang tertaklukan hanya pelacur.”

― Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia

 

Jangan sebut aku perempuan sejati jika hidup hanya berkalang lelaki. Tapi bukan berarti aku tidak butuh lelaki untuk aku cintai. (Nyai Ontosoroh)”

― Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia

 

Antara tubuh dan jiwa, hatiku berbicara

Tanpa dawai, bagaimanakah sebuah biola bisa bersuara? Biola bagaikan tubuh, dan dawai itulah jiwanya- tetapi di sebelah manakah dawai dalam tubuh manusia yang membuatnya bicara? Jiwa hanya bisa dibicarakan lewat tubuh manusia, tetapi ketika tubuh manusia itu tidak mampu menjadi perantara yang mampu menjelmakan jiwa, tubuh itu bagaikan biola tak berdawai.

Namun berbeda dengan biola yang tak berjiwa, tubuh manusia yang hidup tetapi tidak mampu menjadi dawai bagi jiwanya, masih tetap menyimpan jiwa itu di dalamnya- mereka yang disebut tunadaksa bukanlah seongggok darah dan daging yang tumbuh seperti tanaman, karena bukan tanaman bagai memahami cinta para perawat dan menolak para perusaknya.

Betapa lama waktu yang dibutuhkan manusia untuk memahami jiwa : pernah dipuja sembari merendahkan tubuh dan melahirkan para pertapa; bisa dipinggirkan sembari memuja tubuh, dan melahirkan para peraga- ada kalanya tubuh dan jiwa tak dipisahkan, yang berarti tubuh menjadi sahih sebagai pencerminan jiwa; namun terlalu sering juga tubuh gagal menjadi cermin memadai bagi penampilan jiwanya.

Terlalu sering kita melihat kebalikannya : tubuh terindah untuk jiwa yang menjijikkan, jiwa terindah dalam tubuh yang mengerikan- tanpa berpengaruh sang tubuh dalam penilaian kita tentang jiwanya, dan betapa sering kita terseret karenanya.

Begitu banyak yang tidak cocok : wajah alim seorang pembunuh, wajah suci seorang pelacur, wajah miskin seorang dermawan, wajah jutawan seorang pengemis yang terlalu .banyak meminta untuk dirinya sendiri- padahal barangkali memang begitulah adanya, bukankah tidak mungkin memastikan kejahatan seseorang hanya dari wajahnya?

Jiwa kami, jiwa para tunadaksa sebenarnya hanya bisa diduga-duga saja oleh para perawat kami yang mulia, karena sebenarnyalah jiwa seorang tunadaksa tiada pernah bisa diselami oleh mereka yang tubuhnya bersarana sempurna, meski mereka menghabiskan waktu hidup mereka untuk memikirkannya.

Kami memahami jiwa kami dengan cara kami sendiri, dan dari sudut pandang kami, dengan keberadaan tubuh yang menampung jiwa kami, dengan segenap keutuhannya kami adalah juga makhluk yang juga sempurna : kami tidak sempurna bagi yang membandingkan ketubuhan kami dengan ketubuhan mereka, tetapi kami bertubuh sempurna dalam keberadaan kami sendiri.

Kami tidak mendengar karena kami tidak perlu mendengar, kami tidak melihat karena kami tidak perlu melihat, kami tidak bersuara karena kami tidak perlu bersuara, dan kami tidak berpikir karena kami tidak perlu berpikir- tubuh kami tumbuh dalam keutuhannya sendiri, bebas dari perintah-perintah kami, karena jiwa kami yang merdeka juga telah memerdekakan tubuh kami untuk kembali kepada diri mereka sendiri.

Seolah-olah kami tidak melihat dan mendengar, tetapi kami melihat dan mendengar, seolah-olah kami melihat dan mendengar, seolah-olah kami mediam dan membisu, tetapi kami tidak diam dan dan tidak membisu, seolah-olah kami tumbuh seperti tanaman dan tidak mampu berpikir, tetapi kami bukan tanaman dan kami berpikir dengan cara yang hanya kami bisa menghayatinya- semua ini terjadi bukan karena kami berusaha mengelabui, melainkan karena mereka yang merasa dirinya sempurna dan merasa kasihan kepada kami terkelabui oleh perasaan kertersempurnaannya sendiri. Kami sendiri tidak merasa kurang sama sekali, karena keberadaan tubuh kami adalah kelengkapan dalam kelahiran kami.

&&&

Apakah kami mendengar dan tidak mendengar daun-daun yang menguning dan berguguran diterbangkan angin? Apakah kami melihat dan tidak melihat keteguhan gunung yang diselimuti awan dan kabut berganti-ganti? Apakah kami merasa atau tidak merasa betapa senja yang keemasan telah memudar dan berganti malam hari? Apakah kami tersentuh atau tidak tersentuh oleh nyanyian jiwa yang bergelombang di sekitar kami? Apakah kami mengenal atau tidak mengenal kebesaran Tuhan dalam getaran semesta alam ini?

Dunia kami adalah ruang kosong yang belum dijelajahi : mereka yang merasa dirinya sempurna hanya mampu mempertimbangkan tubuh kami untuk menebak-nebak jiwa kami, namun usaha yang sudah lama dan luar biasa itu sejauh ini hanya bisa meraba-raba seperti apakah jiwa kami yang tersembunyi dalam ketubuhan yang sangat berbeda dengan ketubuhan mereka. Keberadaan jiwa  membuat kami hidup, tetapi adalah keberadaan hati membuat kami masih adalah manusia- dan karena adanya hati, kami mengenal cinta melampaui pancaindra.

Begitulah kami tidak akan pernah mendengar kata-kata cinta, tetapi hati kami akan merasakannya. Cinta akan membuat kami tenang, cinta membuat kami bahagia, dan cinta membuat kami terharu. Dari hari ke hari kami bagai dihidupkan oleh cinta sampai kami mati- tubuh kami, raga kami akan sangat cepat mati, tetapi kami tidak akan pernah hilang dari dunia ini : kami hidup dalam diri setiap orang yang mencintai kami. Adalah cinta yang akan menghidupkan kami dan adalah cinta yang akan selalu menyelamatkan manusia di bumi- kami para tunadaksa bagaikan penjelmaan para malaikat yang turun dari langit untuk menguji, seberapa jauhkan manusia memahami makna cinta kepada sesamanya sendiri.

Tentu saja kami mengerti betapa kami bukanlah jenis manusia yang terlalu sama dengan begitu banyak manusia di sekitar kami. Para tunadaksa bukanlah penari, para tunadaksa bukanlah penyair, para tunadaksa bukan pula para penyanyi- kami bukan ilmuan, bukan pedagang, bukan pula cendekiawan, apalagi negarawan. Bukankah kami tidak mempunyai bahasa seperti kamum bisu tuli bisa mempunyainya, bukankah kami tidak mempunyai kemampuan membaca seperti orang-orang yang buta bisa menguasainya, dan bukankah kami juga tidak mempunyai kemampuan meneremahkan pikiran seperti orang-orang lumpuh pun bisa melakukannya- namun dari hari ke hari kami mengada dalam dunia, memberi arti dan makna dengan cara yang hanya para tunadaksa mampu menyelaminya.

Mereka memang mencintai kami, dan hati kami telah disajikkan oleh cinta mereka, namun keindraan mereka yang berbeda dari keindraan kami telah menjadikan hubungan kami dengan mereka yang mencintai kami itu penuh misteri. Demikianlah kami dan mereka bagaikan saling meraba dalam kegelapan dan saling mengulur tangan. Ujung jari-jari kami bagai saling bersentuhan ketika mencoba saling mengenal, namun bukanlah keindraan yang telah mempertemukan kami, karena ketika jiwa mendekat bagai tiada berjarak, keindraan itu telah dilampaui.

Bahkan mereka tidak menggunakan matanya untuk melihat, telinganya untuk mendengar, dan telapak tangan untuk sekadar meraba. Jiwa mereka sering mendadak lebur dengan jiwa kami, namun bisa pula dengan sendirinya terlepas kembali : seandainya kami bisa berbicara, kami ingin memanggilnya agar jangan pergi, tetapi kami tidak memiliki sesuatu yang membuat kami bisa dimengerti- kami tidak mempunyai sarana untuk membahasakan diri kami.

Kami para tunadaksa, bagaikan jiwa yang melayang dalam kelam, jiwa yang melayang-layang dalam gua garba yang tiada akan pernah mencerminkan apa yang kami pikirkan, tidak pernah kami kehendaki, sekedar karena bahasa yang dimungkinkan oleh tubuh kami tidak begitu mudah dipahami. Tetapi tubuh kami adalah tubuh yang berjiwa, dan jiwa kami adalah jiwa jiwa yang berhati- kami adalah juga manusia, dan keberadaan tubuh kami membuat kami hidup secara murni.

&&&

Jika engkau mendengar suara biola, yang menyayat dan merintih di malam hari, apakah dikau mengira suara itu datang hanya karena gesekan gesekan tongkat bersenar kepada dawainya? Jika dikau mendengar suara biola, yang mendesah dan berbisik di malam sunyi, apakah dikau mengira suara itu datang hanya karena ada tangan yang menggesekkannya? Jika dikau mendengar suara biola yang meratap dan melengking di malam sepi, tidakkah dikau mengira tangan yang menggesek biola itu menjelmakan nada-nada dari dalam jiwa? Tetapi dari manakah datangnya nada-nada yang membentuk lagu dari dalam jiwa itu? Apakah lagu itu datang dari balik kegelapan dari sebuah semesta entah di mana? Dari balik kelam lagu itu datang untuk dimainkan seribu biola- tetapi apakah dikau mengira nada-nada itu tak ada, ketika tiada satu biola pun memainkannya dan dunia sepi suara?

Nada-nada itu ada meski kita tak mendengar suara, selama kita masih berjiwa. Adalah jiwa yang menggerakkan tubuh kita, namun adalah hati yang membuat rasa kita di luar keindraan kita, karena tanpa hati yang membuat kita memiliki rasa di luar keindraan kita, karena tanpa hati kita bukanlah manusia sedangkan hati adalah semesta nada-nada. Jiwa kita bagaikan lapisan-lapisan hati tanpa isi, namun ternyata jika lapisan itu dibuka tidak akan pernah ada habisnya. Setiap lapis hati bagaikan suatu galaksi dalam semesta jiwa yang tiada bertepi, darimana nada-nada dengan segenap sentuhannya mengembara, dari sebuah jarak yang milyaran tahun cahaya jauhnya hanya untuk menyapamu.

Setiap kali untaian nada menyentuh jiwamu, wahai saudaraku, sebenarnya dikau berhubungan dengan sebuah dunia dari hati yang berdenyar, yang tiada akan pernah berhenti berdenyar, selama cinta membasuh dan membelainya. Hanya mereka yang mengenal cinta bisa mendengarnya, dan hanya mereka yang bersedia mencintai dan dicintai bisa mengembangkan nada-nada itu di dalam jiwanya. Dengarlah lagu biola itu di dalam hatimu saudaraku, apakah biola yang semula satu telah menjadi seribu, ataukah hilang lenyap tak menentu?

Dalam semesta jiwa, nada-nada bagaikan kupu-kupu yang berterbangan mencari bunga-bunga cinta- mereka tidak akan hinggap di hati yang membatu, mereka tidak akan hinggap pada jiwa yang membeku, karena bunga-bunga cinta berkembang dan semerbak, mendenyarkan cahaya cinta seperti mencari madu kemurnian dunia akan melihat dan mendengarnya.

Cinta melampaui pancaindra, menyentuh langsung ke dalam jiwamu saudaraku, menyapa hatimu yang terbuka terhadap denyar nada-nada yang berterbangan seperti kupu-kupu dalam semesta jiwa. Jika suatu hari kita berjumpa wahai saudaraku, ketahuilah bahwa sebenarnya dikau melihat tapi tak melihat kami, karena dikau hanya melihat dan mendengar suatu penampakan yang hanyalah suatu penampakan, karena suatu penampakan adalah sejuta makna di sebaliknya. Namun jika dikau menatap, kami dengan mata hatimu saudaraku, kami adalah kupu-kupu bagi bunga-bunga cintamu, adalah nada-nada bagi lagu jiwamu, adalah kata-kata bagi puisi dalam hatimu.

Karena kami tunadaksa, maka suaramu akan menjadi suara kami, karena kami tunadaksa maka bahasamu akan menjadi bahasa kami, karena memang kami tunadaksa bagimu, maka dirimu akan menjadi dawai bagi biola jiwa kami.

Tetapi kami adalah selalu dari kami sendiri, yang tidak akan pernah sepenuhnya dikau mengerti.

 

 

Oleh Seno Gumira Ajidarma dalam Biola Tak Berdawai, penulis serba bisa, yang setiap membaca karyanya aku terdorong untuk juga dapat mengikuti jejaknya, inspirator terbesar dalam beberapa kalimatku.

Sheila on 7: Malang untuk yang kedua kali

 Gila gila gila... harus berapa kali lagi aku mengalami kegilaan seperti ini. Bukan yang pertama namun sudah berulang kali aku mendapat pengalaman segila ini. Yap, menempuh perjalanan jauh, diuber waktu demi sebuah konser sheila on 7 adalah suatu hal yang biasa. Dan kali ini tak tanggung-tanggung, aku menempuh jarak Solo-Surabaya-Malang dalam sehari demi sheila on 7. Pukul 09.30 kereta besi membawaku pergi dari Solo menuju Surabaya, jam 14.30 aku tiba di stasiun Gubeng Surabaya, setelah ‘mbulet’ dan mampir di kos Winarti aku langsung menuju terminal Bungurasih. Di sana sudah ada Mas Adi yang telah sangat lama menungguku dengan sabar, haha.. bayangkan saja dia menunggu mulai dari dhuhur hingga magrib. Prok prok prok.... beri ‘applause’ untuk kesabarannya.

Jam 18.30 aku menemuinya di terminal, tanpa basa basi -hanya sedikit meminta maaf- kami langsung menuju Malang. Di dalam hati terasa was-was takut kalau sampai di Malang hanya kebagian dua lagu dan konser selesai. Selama perjalanan aku tak henti membaca sholawat dan doa agar selamat sampai TKP, tiada halangan sedikit pun, dan diberi kelancaran dalam berkendara. Mataku terus melihati papan-papan penunjuk arah ke Malang dan alamat di mana aku berada. Memasuki daerah Pangandaran udara malam dingin mahkota perjalananku, terasa menusuk tulang yang hanya berbalut kulit tanpa daging ini. Teman-teman Sheilagank Malang berkali-kali menanyakan posisiku di mana, sampai Malang jam berapa, dan bla bla bla. Hati terasa tenang ketika sampai di kota Malang jam 20.45, sms teman yang mengatakan bahwa sheila on 7 belum mulai membuatku merasa lega.

Karena tak tahu di mana Grha Cakrawala, kami bertanya pada orang-orang sekitar, entah sudah berapa manusia yang kami tanyai. Dan hasilnya adalah, kami berhasil menemukan tempat bersejarah itu. Yeeeeyyyyyyy..... huraaayyyy....   

Si Paijo dan Udin, teman dari Solo yang sangat risau menanti kedatanganku terlihat berdiri di depan gedung yang sudah mulai sepi lantaran para penonton sudah lama memasuki gedung itu. Juga ada Mas Rizal Bojez yang katanya juga baru datang. (Aku pangling rupane mas iiki berubah, bar cangkok irung yak’e). Setelah melepas lelah sejenak, kami langsung memasuki gedung yang tidak terlalu penuh itu. Suara gemuruh teriak para penonton meramaikan malam itu. Dan di sela-sela teriakan mereka, ada satu suara yang memanggil namaku. Aku menoleh pada asal suara itu, dan rupanya sang ruan rumah, si Sandy berserta keluarga sedang santai di belakang. Aku menyalami mereka dan mengobrol sebentar. Tak terlalu lama menunggu, akhirnya yang dinanti pun terlihat. Ini dia SHEILA ON SEVEN. Backsound khas mengiringi kemunculan satu persatu personel band yang telah 18 tahun berkiprah ini.

Sekian lagu dinyanyikan (sorry gak ngitung, kan aku penikmat sheila’s song bukan matematikawan). Satu hal yang sangat membuatku histeris adalah ketika intro lagu ‘Waktu yang Tepat Tuk Berpisah’ dimainkan. Sayang hanya intro tanpa lagu penuh. Jika saja lagu ini dinyanyikan penuh dari awal hingga akhir, mungkin Mas Rizal sudah babak belur. Hahaa... sorry yo, Mas, reflek, gak sadar. Mungkin karena lagu ini tak pernah dinyanyikan ketika konser, maka nada yang dimainkan Eross terasa mengaktifkan syaraf kejutku.  Aku suka, aku hanyut, aku terkejut pada setiap nada dalam lagu ini.

Berteriak sudah, bernyanyi sudah, menyapa sudah, melompat ke penonton sudah, maka tibalah waktu yang tepat tuk berpisah. Konser harus berakhir, euforia malam itu pun mesti usai. Aku ke luar, menuju stand merchandise. Di sana bertemu dengan teman-teman Sheilagank Malang ‘melintang’ yang belum sempat bertemu sejak aku tiba di Malang. Kami bertegur sapa, mengobrol, berfoto, dan ah yaa itulah... keharusan yang mesti dilakoni saat ada konser. Namun sayang, satu orang yang masih kucari dan belum kudapati dia, satu orang yang katanya mau mentraktirku bakwan kawi, satu orang yang beberapa hari sebelum ini sangat ingin kutemui, satu orang yang jika disebut namanya pasti kalian mengetahui dia, Mbak Gety Purwaningsih, hahahhahaaaa.... tak pernah aku menyangka bahwa aku gagal bertemu dia untuk yang kesekian kali. Apa penyebabnya, hemm... sebenarnya sangat berat untuk menceritakan ini, karena hanya akan membuat kecewa. Membuka luka lama yang belum sembuh betul, ckckkkckckckc.... *hiperbolis.

Jadi ceritanya, malam setelah konser aku mendengar gosip bahwa dia tak jadi menonton karena suatu hal, maka saat itu aku merasa hopeless alias putus asa. Kupikir dia sedang menangis di rumah karena tak bisa menonton sheila on 7, maka aku tidak mengabari atau bertanya padanya. Itu yang ada di bayanganku kala itu. Aku mencoba mendamaikan hati, mungkin lain kesempatan aku bisa bertemu dia. Beberapa saat setelah itu, ketika aku menunggui mas-mas sheila on 7 di hotel ada yang bilang kalau Mbak Gety Purwaningsih menonton konser itu dan baru saja berpamitan hendak pulang ke rumah. Baru saja, sekitar sepuluh atau lima menit yang lalu. Terdiam, tertegun, berkata dalam hati, “ada ya cerita seperti ini?”. Tuhan memang belum menjodohkan kami untuk bertemu. Ya ya, aku simpulkan bahwa memang kami belum berjodoh. Semoga lain waktu bisa berjumpa ya tante.

Opo maneh rek sing ate tak ceritakno, aku kok kesel ngedumel. Hahaa.. yowes tak sopo ae makhluk-makhluk sing tak temui ng konser 2 Oktober 2014 iki.

Ruller, Mbak Nofi & adhine, mas Tude, Indra, Panda, Ryry, Fitria, Afif & konco narsise sopo jenenge? Samsul, Lisa, Mas Themal, Mas Prima, Jimy, Tuyul Oki, Kolor Ijo Hendra, Mega, Bu Asfi, Bintang, Bulan, Matahari, Venus, Feri, Mbak Gety Purwaningsih, Sandy, Mas Rizal, Jo, Udin, Mas Adi, aduh sopo meneh yo?

Aku cuma mau bilang, terima kasih sudah mau jadi temanku. Terima kasih sudah mau baca, i love you all.  

 

*catatan iseng ini ditulis di Solo sambi smsan, bahasa berantakan, maksa untuk jadi tulisan, dan yang pasti diiringi lagu sheila on 7, sepuluh hari setelah konser. 12/10/14. 10.50 PM. NA

Waktu dan Tempat Berkisah (List Ngonser sheila on 7)

 1. Balaikota Semarang 4 Desember 2011

2. UNISULA Semarang 2 Maret 2013
3. SMA 1 Semarang 8 September 2012
4. GOR Tri Lomba Juang Semarang 19 April 2014
5. GOR UNY
6. Sportorium UMY 3 Juli 2013
7. Taman Budaya Yogya 26 Februari 2012
8. Grand Pasifik Yogya 18 Mei 2012
9. Benteng Vestenberg Yogya 1 September 2013
10. Universitas Ahmad Dahlan 8 September 2012
11. Alun-alun Yogyakarta 2 November 2013
12. Alun-alun Surakarta 2 Juli 2013
13. Bekasi Square 18 Mei 2013
14. Summarecon Tangerang
15. GOR Petrokimia Gresik 25 Januari 2014
16. SMA Islam Kepanjen-Malang 1 Maret 2014
17. Colors Pub & Resto Surabaya 31 Maret 2014
18. GOR Trilomba Juang, Semarang.
19. Alun-alun Yogyakarta
20. Universitas Negeri Malang
21. Grand City, Surabaya
22. GOR UNY, Yogyakarta. 13 Desember 2014
23. GOR UNY, Yogyakarta. 21 Februari 2015
24. Mangkunegaran, Surakarta. 8 Maret 2015
25. GOR UNY, Yogyakarta. 25 April 2015.
26. UII Yogyakarta, 30 Mei 2015.
27. Jogja City Mall, 30 Agustus 2015
28. USM Semarang, 24 Oktober 2015

29. GOR UNY, Yogyakarta. 19 Desember 2015

30. GOR UNY, Yogyakarta. 20 Februari 2016

31. GOR UNY, Yogyakarta. 23 April 2016

32. Benteng Vestenburg Surakarta. 27 Mei 2016

33. Grand Pasific Jogja. 23 Desember 2016

Lelahku

Dengan begitu banyak tekanan yang kuterima, aku tak tahu aku sudah gila atau masih waras sekarang. Dokter lah yang berhak menentukan status pasien. Aku sudah tak peduli pada kebaikan dan keburukan lagi. Aku tak peduli pada kata orang-orang. Sejauh ini, aku sudah bertahan dengan seluruh kemampuan yang kupunya.
Rasanya aku lelah, benar-benar lelah. Aku seperti berada di dasar lautan yang begitu dalam. Terjatuh seluruh jiwa dan ragaku. Aku tak bisa untuk bangkit dan berjalan lagi. Aku capek. Sungguh capek dan muak dengan semua ini! Aku ingin ini selesai, secepatnya. Aku ingin mengakhiri semua tekanan ini.

Yogya, 25 Maret 2019


Romantic Tunes 4 Menyisakan Candu


“Romantic Tunes 4 bintang tamunya Sheila on 7 sama The Rain” katanya
“Serius?” tanyaku

Kaget, senang, dan tidak percaya, itulah yang kurasakan saat aku mendengar berita itu. Beberapa saat kemudian, kulihat poster konser ini dan ketidakpercaanku pun hilang dalam sekejap. Tawa dan wajah sumringah mewarnai pagi itu ~

Sungguh senang kiranya hati ini. Sebuah mimpi yang dulu hanya kusimpan dalam batin kini akan segera terwujud. Telah lama aku menginginkan untuk menyaksikan penampilan kedua band idolaku dalam satu pentas di acara Romantic Tunes. Dahulu, setiap kali ada vote guest star di akun IG @secre_creative aku selalu mengusulkan nama Sheila on 7 dan The Rain. Entah hal apa yang membuat pihak Secre akhirnya mewujudkan keinginanku ini. Rasa syukur pun tak henti kuucap terus-menerus. (Untuk siapapapun panitia – yang mungkin baca tulisanku ini – aku secara pribadi ingin mengucapkan rasa terima kasihku, terima kasih sudah mau mengundang Sheila on 7 dan The Rain di acara kalian)

Seperti biasa, untuk menonton konser ini aku harus membeli tiket. Tiket presale 1 dibuka tanggal 4 Januari. Tidak seperti konser tahun-tahun sebelumnya, kali ini aku sudah berniat untuk tidak mau direpotkan alias dititipi tiket oleh teman-teman. Alasannya satu : aku ingin datang lebih awal untuk menyaksikan The Rain! Intinya, aku gak mau telat masuk venue gara-gara ngurusi tiket. Jadi, kuputuskan untuk membeli dua tiket saja. :)

Januari berjalan begitu lambat. Terlalu lama untuk berganti Februari. Hari demi hari terus kuhitung, semakin kuhitung terasa semakin lama. Meski terasa lambat, aku tak punya pilihan lain selain menunggu. Dan ketika kalender memasuki bulan Februari rasanya melegakan. Akhirnya Januari yang menggelisahkan itu menjadi kenangan, berganti Februari yang kuharap akan manis dan meninggalkan kesan indah.

~

Hari yang dinantikan itu datang. Sabtu Pon, 17 Februari 2018. Jogja terasa sangat panas di hari ini. Panas yang membuatku malas untuk keluar di terik siang. Panas itu pulalah yang membuatku tak mau menukar tiket siang hari. Aku memilih untuk datang ketika fajar tak lagi menampakkan cahayanya. Ya, aku berangkat jam 17.00 dari kos. Sampai di lokasi suasana sudah ramai. Aku terjebak macet di parkiran dan tiket belum kutukar. Dengan segera aku mendatangi loket penukaran tiket dan taraaaaammmm... antrean sangat panjaaaaang bahkan sampai hampir keluar gerbang. “Gila saja jika harus ikut mengantre sepanjang ini” batinku. Jadi aku memutuskan untuk pergi makan dan kembali ketika antrean sudah sepi. Saat itu aku cukup beruntung karena bertemu dengan kawanku  Anis yang juga mau menukarkan tiket. Karena aku cukup cerdas jadi kutitipkan tiket pada Anis untuk ditukarkan. Sementara aku pergi ke angkringan untuk memadamkan kelaparan. Makasi ya, Nis sudah mau menukarkan tiketku. :*

Setelah makan, aku menuju pintu masuk GOR UNY. Sungguh sangat disayangkan, dari luar terdengar The Rain sudah melantunkan Gagal Bersembunyi padahal aku belum masuk lokasi. Tak ingin ketinggalan lagu lebih banyak lagi, aku berlari agar segera bertemu Anis untuk mengambil tiket.Hap! Tiket sudah kudapat. Setelah drama tiket usai, kini aku harus melanjutkan perjuangan untuk mengantre masuk. Antrean pun tak kalah panjang. Namun syukurlah, lagi-lagi aku beruntung. Kulihat dua kawanku bernama Gita dan Sinta - anggota Sheilagank Solo Pandawa Lima -  yang sudah mengantre sampai depan. Aku pun memanfaatkan situasi ini dengan menyelinap di antara mereka. ahaa... bisa masuk lebih cepat kan? Yes!!!

Aku sudah di dalam GOR. Mas Indra terus menyanyi tanpa memperdulikan aku yang ngos-ngosan gara-gara berlari demi melihat penampilannya, sebuah penampilan yang sudah lama kunantikan. Gagal Bersembunyi berakhir disambung Berkunjung Ke Kotamu. “Mas, aku hafal lagu-lagumu!” Meski aku seorang sheilagank sejak dalam kandungan, aku juga banyak hafal lagu The Rain. Band yang kukenal ketika hatiku sedang remuk-remuknya dulu. Hingga sekarang pun aku masih menyukai band yang beranggotakan empat pria-pria kece ini.

Rasanya begitu senang, sangat senang. Satu persatu lagu kunyanyikan bersama para penonton meramaikan GOR UNY malam itu. Usai Berkunjung Ke Kotamu, The Rain memberikan intro Terlalu Indah lalu disambung Terima Kasih Karena Kau Mencintaiku. Selesai menyayikan lagu ke-4, sang vokalis bercerita sebentar. Mas Indra memberitahukan kepada ribuan penonton bahwa putra pertamanya baru saja terlahir ke dunia yang indah ini, saat ia sedang di atas panggung. Sontak tepuk tangan dan sorak penonton mengiringi perasaan haru Mas Indra.Konser ini pun menjadi konser yang paling berkesan bagi Mas Indra – bagiku juga, Mas. Percayalah. Aku bahagia bisa menyaksikan penampilan The Rain dan Sheila On 7 dalam satu panggung Romantic Tunes 4. Kebahagiaanku pun terasa lengkap karena ada seseorang di sampingku yang menemaniku menonton konser ini. :p

Tembang terus dilantunkan, lalu sampailah pada Hingga Detik Ini. Lagu yang membuat suasana mendadak romantis gara-gara cahaya flashlight penonton menyala di kegelapan. Seperti membentuk gemerlap bintang. Sebuah suasana nan indah yang aku yakin pasti tak dapat dilupakan oleh siapapun yang datang malam itu.

Tak terasa, waktu berjalan sangat cepat, sebelas lagu tuntas dibawakan. Ada perasaan sayang akan semuanya. “Jadi ini sudah selesai ya?” aku membatin. Terasa kurang karena banyak lagu The Rain yang kutahu dan kuhafal tapi belum dibawakan. Namun apalah daya, aku cuma penonton konser kelas festival yang cuma membayar 60 ribu rupiah saja. Mana mungkin kehendakku ini terkabul. Jadi, kurelakan mereka mengakhiri pertunjukan. Sepanjang Jalan Kenangan resmi menutup penampilan The Rain di Romantic Tunes 4. 

Aku terdiam ketika ini berakhir. Ada sesuatu yang kurasakan dan aku berusaha keras untuk mencari tahu apa itu. CANDU! Rasa-rasanya ini tepat. Aku kecanduan ingin nonton lagi The Rain manggung. Rasanya belum puas bernyanyi. Meninggalkan Cerita Ini, Bulan Sabit, Dengan Sederhana, Jangan Pergi, Masih Mampu Menemanimu, dan Jabat Erat belum pernah kudengar secara live. Mas Indra, kalau Mas Indra baca tulisan ini tolong lagu-lagu itu dibawain pas konser di Jogja. Liriknya nyata, Mas!! Beneran, aku gak bohong! :(

Baiklah. The Rain selesai, giliran Sheila on 7 menunjukan aksi yang tak kalah keren. Menyelamatkanmu menjadi pembuka. Lagu yang sangat jarang dibawakan akhirnya menggema di Jogja. Para penonton yang rata-rata sheilagank tentu sudah hafal di luar kepala menyanyikan lagu ini dengan lantang. Maaf aku tak menghitung berapa banyak lagu sheila on 7 yang dibawakan, tapi aku ingat mereka membawakan Film Favorit. Lagu yang baru sebulan rilis tapi coverannya sudah banyak dan sheilagank hafal!
 
Kami bernyanyi, jingkrak-jingkrak, melupakan sejenak penat, karena kami datang ke sini untuk bersenang-senang. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Song list sheila on 7 sudah tuntas dibawakan semua. Artinya, pertunjukan selesai! Mungkin diriku masih ingin bersama kalian, mungkin jiwaku masih haus sanjungan kalian.....

17 Februari telah sampai ujung, benar-benar harus berganti menjadi 18. Pergantian hari itu juga menandai bahwa mimpiku telah menjadi nyata dan meninggalkan cerita. Cerita menyenangkan yang sedang berusaha kuingat dan kutulis di sini. Hari-hari terus bergulir, namun kenangan 17 Februari masih membayang.

Terima kasih untuk semuanya. Panitia @secre_creative (mimin yang hingga detik ini tak kuketahui identitasnya – yang terus menagih tulisanku ini - Tuntas ya, Min. Plis jangan terror aku. Hahaha, bercanda), untuk The Rain dan Sheila on 7 terima kasih untuk karya-karya kalian yang begitu nyata menemani hari-hariku, terima kasih untuk para sheilagank yang sudah datang dari berbagai penjuru kota, Sheilagank 7 Jatim, bulek Uul : ciyee, sekarang udah nggak ketinggalan kereta lagi, Linda & Patrick, Pak Gofur : untung koe ra nonton mbi aku, cumpleng, Pak. Suaramu koyo kaleng. Masrur senang bisa bertemu lagi, jauh-jauh terbang dari Jakarta demi ketemu anak-anak dan ngonser, Mas Aqni : jauh-jauh dari Gresik, motoran 9 jam, seneng & nggak nyangka bisa ketemu lagi. Temen-temen SG Solo Pandawa 5, Udin pipiku sakit mbok cubit, Mas Prima aku puas banget njiwiti koe, Mas. Yang jauh dari Wonosobo Mas Firman makasi caricanya enak dan nagih. Fajar : sorry tak jiwit lagi. Sheilagank Compass Semarang Mas Dadang, Afdi. Sheilagank Magelang, Arifin yang selalu telat nyariin, konser bubar lagi whatsapp. Temen-temen DDSG Wawan, Joko, Cungkring, Cipto, Ian, Ikhsan. Sheilagank dari manapun yang nggak kesebut, maaf. Makasi udah sempet berjabat tangan, berhahahihi, berfoto, aku masih sayang kalian. Untuk kamu, Mas, terima kasih sudah membawakanku banyak makanan, hahaha. Juga terima kasih kepada para pembaca. “Senang Bisa Bertemu”

Yogyakarta. Jumat, 9 Maret 2018. 12 : 21 PM

Lirik Film Favorit Sheila On 7

Terkadang hidup menggariskan misteri
Yang takkan pernah bisa aku pahami
Seperti aku yang tak pernah berhenti
Mencari celah menaklukan hati

Mereka bilang cobalah kau sadari
Misteri ini harusnya disudahi
Aku mencoba sederhanakan ini
Agar semua orang memahami

Reff :
Sama seperti di film favoritmu
Semua cara akan kucoba
Walau peran yang aku mainkan
Bukan pemeran utamanya

Karena mereka tak ikut merasakan
Indahnya hidup jatuh hati padamu
Sekali lagi aku kan menjelaskan
Berhenti bukan pilihan bagiku

Sama seperti di film favoritmu
Aku takkan pernah menyerah
Tak peduli yang  aku mainkan
Kubukan pemeran utamanya

by Eross Candra

Menang Kuis Dapet Tiket Gratis

Hallo, kayanya ini cerita pertama di bulan Desember. Kali ini aku mau sedikit berbagi cerita soal gimana aku bisa dapet tiket gratis konser Sepenuh Cinta. Beginilah ceritanya gaes..

Di suatu malam, sekitar pukul 20.00 seperti biasa di ruang latihan dan di sela-sela break latihan aku membuka gadget dan secara tidak sengaja mendownload foto yang dishare oleh Udin di grup whatsapp Dolan Terus Sheilagank. Aku yang biasanya paling males download foto entah mengapa malam itu seperti ada yang menggerakkan untuk mendownloadnya. Dari situ aku membaca bahwa di grup facebook sheilagank indonesia sedang berlangsung kuis berhadiah konser sheila on 7 23 Desember.

Tanpa basa basi aku langsung membuka akun facebookku dan ikut menjawab kuis yang terposting. Pertanyaannya gak susah, cukup menceritakan pengalaman seru bersama sheila on 7 dan harapan terbesar untuk mereka. Aku gerakkan jariku untuk menjawab kuis. Entah suara dari mana yang berbisik lirih kala itu, memilih pengalaman pertama kali bertemu sheila on 7 sebagai pengalaman paling berkesan. Aku menuliskannya dengan sangat enjoy dan tanpa dibuat-buat untuk jadi bagus. So, aku menceritakannya dengan begitu saja seperti aku menuliskan cerita ini. Di akhir cerita, aku tuliskan bahwa aku pengen duet sama mereka dengan biolaku. Entah siapa pula yang menyuruhku untuk menceritakan ini tapi kurasa biarlah banyak orang tahu dan siapa tahu malaikat mengamini doa mereka agar mimpiku itu terwujud.

Pulang dari kantor rasanya deg degan, bakal dapet gak ya tiket gratis itu. Hatiku merasa optimis menang tapi di lain sisi juga merasa tak yakin. Dan akhirnya............

Tadaaa.... seperti yang telah dijanjikan pemenang kuis akan diumumkan tanggal 07 Des selepas maghrib. Kubuka kembali akun facebookku dan namaku terpampang sebagai pemenang... Yeeeaaahhhhhh... teriakku dalam kamar. Bahagia sudah tentu itu yang kurasa.  Akhirnya kerinduanku pada sheila on 7 akan terobati. Jujur saja, aku sudah lama tidak menonton konser sheila on 7. Dan kali ini aku bisa menonton secara gratis tis tiiiissss!!!! Itu adalah hal yang cukup menggembirakan dalam hidup.

Sudah kubilang kan? Kalau ditakdirin ketemu pasti bakal ketemu entah bagaimana caranya. Well, tinggal nunggu hingga saat yang ditentukan datang. Lepaskan semua rindumu pada sheila on 7 dan pada sheilagank. Sampai jumpa tanggal 23 Desember di Grand Pasific Hall lagi. Yeaahhh.... Berteriaklah sekeras kerasnya, lupakan sejenak semua permasalahan hidup. Mari kita melompat lebih tinggi.


Yogyakarta, 9 Desember 2016.
Niken Ayu.



Berawal Dari Sheila On 7




“Banyak ya yang udah kita lewati?” tiba-tiba suara itu muncul.

“Gak nyangka bisa sejauh ini” ia meneruskan. “Dari yang awalnya cuma pengen ngenalin satu sama lain, tapi ternyata bisa lebih dari itu. Jadi impian itu terwujud” ia masih mengomel. “Berawal di Dieng, bisa juga sampai di Candi Cetho. Banyak yang udah kita lewati, juga pernah ada yang lagi sakit keras dan bener-bener gak bisa ikut kumpul ataupun dolan selama berbulan bulan, kali ini terlihat sehat, bugar, ceria, dan tentu saja koplak. Ada juga yang tiap kali mau ikut dolan harus menempuh perjalanan selama 7 jam, sampai sekarang mereka masih mau melakukan hal yang sama. Juga ada yang rela mengendarai motor sendiri, menempuh perjalanan 3-5 jam, tapi tetap semangat melewati itu. Ada pula yang mesti pusing memikirkan ini itu agar acara terlaksana, padahal dia juga punya segambreng PR, tapi tetap saja mau susah-susah, meluangkan waktu demi bisa ketawa bareng, gila bareng, bahagia bareng. Intinya, mereka masih seru hingga detik ini dan detik detik di kemudan hari.

Niken Ayu. Diberdayakan oleh Blogger.