Tampilkan postingan dengan label Sheila on 7. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sheila on 7. Tampilkan semua postingan

UAD oh UAD

 Berikut akan kuceritakan hariku kemarin. Penting banget ya buat diceritain sampe di share di FB segala? Waaah, iya dong sangat penting sekali karena menyangkut hajat hidup orang banyak, yuk mari disimak.  Hahaha, ngaco.

 Kemarin tanggal 08 September 2012 aku pergi ke Jogja buat nonton  so7. Ceritanya pas pagi hari jam 07.45 aku dapet sms dari anak SG Magelang, isinya gini “pagi ini ada so7 di Jogja dikampus apa gitu lupa namanya, jam 10 pagi, free”. Ada rasa antara percaya dan gak percaya akan info itu, tapi setelah aku tanya-tanyain ternyata bener so7 di kampus 3 UAD jam 10.00. Dengan cepat otakku berikir, hmmmm masih nutut (gak tau apa bahasa Indonesianya). Kalo dikejar perjalanan Solo Jogja dua  jam  cukup (SALAH BESAR). Bego banget sih lu Ken, udah bolak balik ke Jogja tapi gak hafal berapa waktu tempuh kesana. Hehe, bukannya aku bego tapi udah ku kira-kira kalo telat dikit paling kelewat beberapa lagu. Terus kamu berangkat sendiri Ken? Ya nggak lah, bisa nyasar aku nanti. So aku sms temen-temen SG Pandawa Lima. Aku ajak mbak Tari dan yang lain. Kalo SG Solo aku udah berpikiran kalo mereka gak bakal ikut. Lho kok bisa? Ya bisa, karena selain dadakan jam-jam segitu mereka banyak yang kerja. ya  berangkatlah saya sendiri dari Solo. Sendiri Ken, gak nyasar? *plaaaaakk

Oh ya, pas dijalan aku keinget sama si Heru Duta, bukan inget sama dia ding tapi sama statusnya, kalo dia pengen nonton so7 di Jogja pas malemnya (tanggal 7) tapi gak bisa lantaran acara itu PRIVAT. jadi, aku ajak dia juga, kuambil HP dan mengirimi dia pesan. *terkirim. Beberapa detik kemudian ada balasannya, setelah kita berdiskusi sebentar tentang blablablablabla tercapailah kesepakatan hitam diatas putih dengan materai 6000 ( opo ae to Ken) : D

Yap, aku sudah sampai Alun-alun Klaten, disana ada mbak Tari yang sedang duduk dengan manisnya menunggu saya. Emang koe manis mbak? * peaceeee... ^_^. Beberapa menit kemudian datanglah si Imam lalu tanpa babibu kita langsung berangkat. Bertiga Ken? enggak, yang lain sudah nunggu disana dan disana. Eh pas dijalan kita ketemu anak SG, gak tau dia siapa karena kami bertiga gak ada yang kenal. Terus tau darimana kalo dia SG? Di helm dan motornya ada stiker 507. Karena kita ga ada yang kenal ya udah ga ada yang negur, lagipula dia udah melesit jauh banget.

Stop, berhenti di terminal bentar nunggu cicilan rombongan. Satu,dua,tiga, sip lengkap, berangkaaaat. Nah,pas kita mau berangkat, Bang Antok dapet kabar kalo temennya yang mau ikut rombongan kebablas jauh.  kita suruh dia berhenti. Motorpun jalan, jalan dan jalan pas sampe disuatu jalan aku bener-bener  ngakak liat dia (temennya Bang Antok) yang lagi dipinggir jalan nunggu kita sambil bentangin MMT bretuliskan SHEILAGANK SUKABUMI. Gokil tenan ki, seperti orang yang dibandara bawa papan nama gitu. (hahahahaa, sueeerrr aku ngakak gak berhenti-berhenti). Dan ternyata eh ternyata dia adalah anak SG yang kita liat dijalan tadi. Oke, 7 ekor sheilagank siap berangkat.

Kok panjang banget ceritamu Ken? Bisa to the point gak?

Hus, namanya cerita ya mesti panjang, eh tapi ya juga sih,capek bacanya. Yasudah langsungan yo rek. Kita sudah sampai di kampus UAD. Horeeee bisa ketemu so7 dan masih kebagian lagu dong, heeem boro-boro, belum woooe. Lha kok bisa? Iya laaah, kampusnya aja kampus 1. Acaranya kan dikampus 3. Karena lupa dimana kampus 3 kitapun tanya orang, “ Mbak dimana ya kampus 3 UAD”? “ oooh disana mbak, di ****** (aku lupa namanya). “aku mengangguk mengerti dan sok tahu , padahal ya gak tau. Hehehe, yang tau kan mbak Tari.

Greeeeengg, setelah muter-muter luaaamaaa banget  gara-gara gak tau jalan, ketemulah kampus 3 UAD. Horeeee bisa nonton so7 ya Ken?? Belooom hooe. Jadi  berhentilah kita dipinggir jalan, dan satu hal yang ada dibenakku dan juga temen-temen yang lain “ Kok sepi ya”? daripada penasaran nerka-nerka sendiri mending tanya sama orang. Masuklah saya kekampus itu dan menemui pak satpam. Diperolehlah info bahwa so7 mainnya di kampus 4. Gubraaaakkkkk. . . kalo ketemu sama yang ngasi info aku mau marah sama dia, tapi sialnya penyakit LUPA menyerang tiba-tiba, saya gak jadi marah sama si Kiki eh malah cipika cipiki (buat Kiki kalo ketemu tolong ditagih ya marahnya, * emangnya hutang??? ). Okelah, balik kemarah, eh salah maksudnya kampus 4. “ Kampus 4 dimana ya”? tanya Tari. “ Ringroad mbak” jawabku menjiplak kata satpam. Meluncurlah kita kesana dengan kesasar-sasar karena tak tahu jalan.

Cukup lama nyari kampus 4, diperjalanan dua malaikat yang menghuni hatiku sedang berbisik-bisik “Daritadi motor jalan tapi kok gak sampe-sampe ya”? tanya si Yaya. “ Aku gak tau” jawab si Yiyi. Dan ternyata sodara-sodara rombongan salah jalan. Oh alaaaaaahhhh Gusti, nyuwun ngapuro. Kamipun secepatnya berbalik arah, sekitar 20 menit waktu tempuh ketemulah kampus 4 UAD. Nah yang ini baru bener,ada panggungnya dan rameee banget. Ya iya laaaah, namanya juga konser.

Horeeeee, jadi ketemu mas-mas so7 dong Ken? Seneng gak???

Enggak!!!! Lha kok bisa? Gimana mau seneng sampe sana sembari memarkir motor terdengar lagu Berhenti Berharap pas reff terakhir lalu konser SELESAI.

Oh Tuhaaaaan, jadi kesimpulannya untuk perjuangan ini adalah setelah melalui perjalanan panjang begitu sampai lokasi, PERTUNJUKAN SELESAI. *Tertegun   

cerita so7 @bekasi

 8 Mei 2013. Entah ini sudah keberapa aku menonton konser sheila on 7, kali ini ke Bekasi, jauh sekali dan nyaris tak pernah kuduga bahwa akhirnya aku berangkat menonton konser yang jauh disana. Dahulu temanku pernah bertanya,

‘nonton konser paling jauh kemana Ken’?

‘Semarang’

Tapi kalau dia tanyakan hal yang sama sekarang, maka jawabannya adalah Bekasi. Sebenarnya aku sudah mengurungkan niatku untuk berangkat lantaran jauh. Namun keajaiban jauh dari langit. *pluk cling cling (begitu suaranya). Tak hanya untuk urusan nonton konser tapi juga untuk seminar iklan. Karena ada dua kepentingan jadi aku tak berangkat sendirian, yap, aku ke Jakarta bertiga. Dengan teman sekelasku si Tya dan kakak tingkat namanya Rendi yang mememememeeeeel bangeet, hahahaaa. Suer, ni anak nyebelin, pengen rasanya ngelempar dia dari kereta, bluuuuuung. *lempar lempar. Ah sudahlah.

Jumat, 17 Mei jam 15.30 kereta Bengawan dari stasiun Jebres mengantarkanku ke Jakarta. Kapanpun dan kemanapun aku pergi, aku tak pernah khawatir akan menginap dimana. Karena dimana-mana pasti ada SheilaGank. Aku selalu merasa aman bersama mereka, yang kutahu semua anak SheilaGank baik, mereka bersedia menolong kapanpun aku membutuhkan bantuan. Jakarta, ah tak perlu khawatirkan bagaimana aku hidup disana. Afdieeeeeee.... *cieeee, namamu tak sebut disini loh. Ya iya dong, soalnya kan kamu yang nolongin aku selama di Jakarta. Yap, jadi si Afdi ini yang menjemputku di stasiun Jatinegara. Lama aku menunggunya datang, mungkin sekitar 30 menit. Selama menunggu kubuka fesbuk dan gak lupa update status coooy, ahahahaaa... dan gak taunya, ini status jadi bahan ngekek pas ketemu sama anak jabodetabek, he’s Bang Kurniawan. Kata dia ‘ni anak jam 01.30 nytatus, katanya lagi di Jatinegara’, hihihi..

Setelah menunggu, akhirnya si Afdi datang membawa pedang, wkwkwkw... *opo yo arep tempur. Dan karena udah gak ada yang ditunggu lagi kamipun menuju rumah Afdi. Kupandangi suasana ibukota yang baru kali ini kuinjakan kakiku disini. Wow, kota memang tak pernah tidur. Sana sini masih juga ramai oleh kerumunan masyarakat. Satu pemandangan yang menarik perhatianku adalah Pasar Ikan. Uuuuh, baunya amis sekali, ditambah angkot macet disini. Tapi its ok lah, aku gak mau ngeluh, aku nikmati saja apa yang ada dihadapanku, sayangnya ikannya belum dimasak jadi gak nikmat. Eh... :D

Angkotpun selesai menunaikan tugasnya untuk mengantarkan kami. Tapi perjalanan belum usai, rupa2nya rumah Afdi masih jauh dan harus ditempuh dengan berjalan kaki. Aku gak tau pasti berapa kilo jarak ini, tapi yang pasti aku tepar jalan kaki. Jam berapa aku sampai rumahnya? Ah lupa. *jam piro di? Halah paling dia juga gak inget.

Setelah menempuh perjalanan Solo-Jakarta yang sangat sangat sangat melelahkan, tibalah kami bertiga dirumah si Afdi. Kami beristirahat, lalu adzan subuh berkumandang, aku mandi, sholat dan tidur lagi. Sementara temanku yang lain sudah pulas dalam tidurnya.

Jam demi jam berlalu, matahari mulai bertengger menyinari bumi. Ada orang tak dikenal datang menghampiri kami yang sedang bersantai. Lelaki berkulit hitam, berambut keriting, dan sungguh menyeramkan. Meski menyeramkan tetap aku menyapanya, dan rupa-rupanya dia adalah si Paijo anak SheilaGank pandawa 5. Hahahaaaa... dengan dia kami akan berangkat ke Bekasi Square.

Kami cemas memikirkan sesuatu, apakah yang dipikirkan? Mau tau? Pembaca mau tau? Baiklah kan kuberi tau. Jadi, tebengan untuk ke Bekasi kurang satu biji. Aku berusaha mencari-cari teman yang bisa ditebengi. Ku posting status disana sini, kutanya beberapa teman yang kiranya bisa menolong. Luar biasa, respon teman2 begitu cepat dan hasil dari usahaku adalah nihil. Tak ada teman yang bisa ditebengi. So, endingnya aku, Tya, dan Afdi ngangkot. Sementara Paijo dan Rendi mengendarai motor. Tak apalah, daripada udah sampai Jakarta dan hanya karena gak ada tebengan kami gak berangkat, mau gak mau kita naik angkot juga. Tapi jangan dikira kita bertiga berangkat naik angkot bener2 bareng dari satu tempat, hah... tidak. Aku dan Tya duluan naik angkot, sedangkan si Afdi naik motor dan disuatu tempat nanti sang motor akan dititipkan lalu ia naik angkot bersama kami. Aku dan Tya hanya menurut aba2 dari Afdi. Rasanya takut, didalam angkot dan gak tau jalan. Nanti kalo ada apa2 gimana hayoooo??? L. Tapi iya sudah, aku percaya padamu Afdi dan kucoba ikuti aba2mu. J

Ada suatu insiden yang membuatku takut, jadi pas turun dari angkot dan membayar ongkos pada sopir, dia tanya ‘dari mana mbak’, aku jawab ‘Solo’. Eh gak ngerti kenapa tu sopir mukanya jadi jelek banget karena merengut seperti marah dan gak ramah. Aku yang gak ngerti apa2 sedikit takut akan hal itu, kukira karena ongkosnya kurang, tapi bukan, dan entahlah mengapa dia gak ramah.

Kami berganti angkot, ini angkot ketiga sekaligus terakhir yang kami tumpangi sebelum sampai dilokasi. Macet sudah pasti adalah pemandangan sehari-hari. Tak terkecuali hari ini, yap kita terjebak macetcetcet. Ada sesuatu yang menggelitikku dan tertawa geli, angkotku ‘disalip’ becak. Tahu gini mending naik becak ya tadi. Aku membatin. Setelah lama lama lama mamamamamaaaa terjebak dalam angkot yang macet, pukul 15.36 kami sampai dilokasi, its BEKASI SQUARE. Hu yaaaa, horeeee... yeyeyelalala... senangnya bisa sampai sini dengan selamat, sehat, sentosa dan bahagia. Lalu dimanakah lokasi sheila on 7 beraksi? Tempat ini masih kita cari cari, tanya satpam sana sini, dan hinggaplah kami pada suatu tempat. Depan XXI. Nongkrong dulu disini gank. Lagipula hari masih sore, so7 belum mulai.

Di depan XXI anak-anak SheilaGank ngumpul, dimana kebanyakan adalah dari jabodetabek. Ada Mbak Eni, Bang Kurniawan, Marwan, Djenri, Blekok Sawah, Dwi, satu lagi yang masih SMP aku lupa namanya, dan buanyaaaak banget aku gak hafal, hihihi. Kami saling sapa, berhahahihi, mengobrol ngalor ngidul, dan foto bersama. Malam ini, Bekasi Square lantai 4 (kalau gak salah itung), ramai dengan adanya kami pasukan SheilaGank. Sore berganti malam, waktu sudah menunjukan pukul 19.30, setelah menunaikan kewajiban aku berserta teman2 menuju panggung. Masuk lokasi ada pemeriksaan barang, sejujurnya aku tak suka akan hal ini, selalu dan selalu, bagi yang membawa minum kalau tak dibuang ya harus dihabiskan (dipikir kita unta yang minumnya banyak suruh ngabisin air), aku yang memang kancil tak pernah kehabisan akal untuk mengelabui panitia. Jadi ************ sensor caraku ngibul, walhasil aku tetap bisa membawa minum kedalam. Bodo amaaat... hahaaaaa....

Sampai didalam sheila on 7 belum tampil, halah ya memang demikian. Panitia bilang mereka keluar jam 20.00, beradasarkan pengalaman nonton konser, mereka pasti main jam 22.00 keatas. Yaudah deh, kita nunggu sambil gabung sama SheilaGank yang lain. Yaaa... banyak banget anak SG yang kutemui, ada Mbak Laut, Reza, Ibend, Ari, Yulvan, Nanda, Jaka, Modus, ayo siapa lagi yang mau presensi??? :D

Setelah kiranya ada tanda2 bahwa sheila on 7 akan segera tampil, kami bergegas meninggalkan tempat nongkrong yang berada dibelakang merchandise so7 untuk kedepan panggung. Lama kemudian munculan band kesayangan kita semua, siapakah diaaaaa?????? Iyaaa, jawaban kalian tepat sekali. Tembang pertama yang dibawakan adalah ‘Seberapa Pantas dan berakhir dengan Melompat Lebih Tinggi’. Bocoran lagu baru juga dinyanyikan sedikit. Bagi yang penasaran liat saja videonya di akunku atau Youtube. Next, satu hal yang membuat takjub diakhir acara adalah ‘Kembang Api’. Duuuuar duuuuar duaar, super keren, ditambah soundtracknya Melompat Lebih Tinggi. Rasa-rasanya perjuangan menempuh perjalanan yang jauh dari Solo ke Jakarta, berdesakan dengan banyak manusia, terjebak diantara macetnya ibukota, terpapar panas yang sangat menyengat, berjejal dengan udara kotor asap knalpot, dan bosannya menunggu, terbayar setelah konser ini selesai dengan sangat menakjubkan.

Seusai konser, kami masih ingin berfoto bareng sheila on 7. Hotel Horizon adalah tempat mas2 so7 menginap. Kita yang ingin berfoto diperbolehkan dan bahkan disuruh kesana. Di waktu ini, aku kehilangan jejak temanku Tya, Afdi dan Rendi, ya kami terpisah. Aku bingung harus bagaimana. Langkah teman2 sangat tergesa dan cepat, nomor HP Tya dan Rendi tak dapat dihubungi. Tapi untung ada bang Kurniawan jadi masih ada temannya, hehe, aku keparkiran sama dia. Diparkiran ketemu Paijo. Akupun nebeng motor Paijo, bertiga dengan Mbak Laut. Kami keluar parkiran, dan hah yaaa... selalu ada saja kejadian yang membuat tertawa geli. Memang dasar Paijo, mau keluar parkiran muter2 sampe 3 kali dan ketemu jalan yang itu lagi itu lagi (kita gak bisa keluar gara2 salah jalan, dan salahnya terulang sampai 3 kali) *kebangetan. Ada juga kejadian yang aduh kasian banget, ‘motor mogok’. Hem, motor siapa ya? Ari bukan? Entahlah. Aku belum juga menemuan teman2ku, mereka hilang, oooh tidaaaakk... nasibku gimana???? Nomor Tya da Rendi mati, Afdi??? Aku mencoba menghubunginya, tuuut tuuut tuuut.

‘Halo’. Yes nyambung.

‘Afdi, kamu dimana’

‘Di bundaran depan mall ken’

‘Tya dan Rendi sama kamu’

‘Iya, kita tunggu disini’.

Legaaaaaaaa.....

Rasa lega ini bercampur dengan berhasilnya kita menemukan pintu keluar mall, tapi aku masih gagagagalaaau... galau apa lagi keken? Ya gimana, mau ikut ke hotel tebengan kurang, ada tiga orang yang tak bisa terangkut. Lagipula jemputanku sudah hampir datang. Hingga pada akhirnya, keputusan kuambil dengan sangat berat hati, kuketokkan palu tiga kali, tok tok tok. Aku gak ikut ke Horizon, Afdi, Paijo dan kawan2 SheilaGank semua tinggalkan kami bertiga. Mereka meninggalkan aku, Tya dan Rendi didepan mall. Tak lama setelah itu Mas Trias datang menjemput, mengangkut kami kerumahnya.

Diperjalanan, sampai rumah Mas Trias dan hingga kutulis cerita ini, keinginan untuk ikut ke Horizon masih terbayang2. Tapi ya sudahlah, masak mau diulangi dari awal??? hehehe

Malam ini kita have fun, ini malam minggu yang kulewatin di kota terjauh dan besama mereka yang kusayang. Pas dijalan, aku dapat sms dari teman, kalau ditanggal ini setahun lalu adalah konser tunggal so7 (anniversary so7). Aku terdiam, tertegun, berfikir. Tepat sekali, setahun lalu ditanggal 18 Mei aku dan teman2 SG menikmati pesta akbar tahunan dan kini ditanggal yang sama aku menikmati hal serupa namun tak sama. Mungkin hanya kebetulan, namun ini tentu akan menjadi Kisah Klasik untuk Masa Depan.

#Loh ceritanya habis. J

Sheila on 7: Malang untuk yang kedua kali

 Gila gila gila... harus berapa kali lagi aku mengalami kegilaan seperti ini. Bukan yang pertama namun sudah berulang kali aku mendapat pengalaman segila ini. Yap, menempuh perjalanan jauh, diuber waktu demi sebuah konser sheila on 7 adalah suatu hal yang biasa. Dan kali ini tak tanggung-tanggung, aku menempuh jarak Solo-Surabaya-Malang dalam sehari demi sheila on 7. Pukul 09.30 kereta besi membawaku pergi dari Solo menuju Surabaya, jam 14.30 aku tiba di stasiun Gubeng Surabaya, setelah ‘mbulet’ dan mampir di kos Winarti aku langsung menuju terminal Bungurasih. Di sana sudah ada Mas Adi yang telah sangat lama menungguku dengan sabar, haha.. bayangkan saja dia menunggu mulai dari dhuhur hingga magrib. Prok prok prok.... beri ‘applause’ untuk kesabarannya.

Jam 18.30 aku menemuinya di terminal, tanpa basa basi -hanya sedikit meminta maaf- kami langsung menuju Malang. Di dalam hati terasa was-was takut kalau sampai di Malang hanya kebagian dua lagu dan konser selesai. Selama perjalanan aku tak henti membaca sholawat dan doa agar selamat sampai TKP, tiada halangan sedikit pun, dan diberi kelancaran dalam berkendara. Mataku terus melihati papan-papan penunjuk arah ke Malang dan alamat di mana aku berada. Memasuki daerah Pangandaran udara malam dingin mahkota perjalananku, terasa menusuk tulang yang hanya berbalut kulit tanpa daging ini. Teman-teman Sheilagank Malang berkali-kali menanyakan posisiku di mana, sampai Malang jam berapa, dan bla bla bla. Hati terasa tenang ketika sampai di kota Malang jam 20.45, sms teman yang mengatakan bahwa sheila on 7 belum mulai membuatku merasa lega.

Karena tak tahu di mana Grha Cakrawala, kami bertanya pada orang-orang sekitar, entah sudah berapa manusia yang kami tanyai. Dan hasilnya adalah, kami berhasil menemukan tempat bersejarah itu. Yeeeeyyyyyyy..... huraaayyyy....   

Si Paijo dan Udin, teman dari Solo yang sangat risau menanti kedatanganku terlihat berdiri di depan gedung yang sudah mulai sepi lantaran para penonton sudah lama memasuki gedung itu. Juga ada Mas Rizal Bojez yang katanya juga baru datang. (Aku pangling rupane mas iiki berubah, bar cangkok irung yak’e). Setelah melepas lelah sejenak, kami langsung memasuki gedung yang tidak terlalu penuh itu. Suara gemuruh teriak para penonton meramaikan malam itu. Dan di sela-sela teriakan mereka, ada satu suara yang memanggil namaku. Aku menoleh pada asal suara itu, dan rupanya sang ruan rumah, si Sandy berserta keluarga sedang santai di belakang. Aku menyalami mereka dan mengobrol sebentar. Tak terlalu lama menunggu, akhirnya yang dinanti pun terlihat. Ini dia SHEILA ON SEVEN. Backsound khas mengiringi kemunculan satu persatu personel band yang telah 18 tahun berkiprah ini.

Sekian lagu dinyanyikan (sorry gak ngitung, kan aku penikmat sheila’s song bukan matematikawan). Satu hal yang sangat membuatku histeris adalah ketika intro lagu ‘Waktu yang Tepat Tuk Berpisah’ dimainkan. Sayang hanya intro tanpa lagu penuh. Jika saja lagu ini dinyanyikan penuh dari awal hingga akhir, mungkin Mas Rizal sudah babak belur. Hahaa... sorry yo, Mas, reflek, gak sadar. Mungkin karena lagu ini tak pernah dinyanyikan ketika konser, maka nada yang dimainkan Eross terasa mengaktifkan syaraf kejutku.  Aku suka, aku hanyut, aku terkejut pada setiap nada dalam lagu ini.

Berteriak sudah, bernyanyi sudah, menyapa sudah, melompat ke penonton sudah, maka tibalah waktu yang tepat tuk berpisah. Konser harus berakhir, euforia malam itu pun mesti usai. Aku ke luar, menuju stand merchandise. Di sana bertemu dengan teman-teman Sheilagank Malang ‘melintang’ yang belum sempat bertemu sejak aku tiba di Malang. Kami bertegur sapa, mengobrol, berfoto, dan ah yaa itulah... keharusan yang mesti dilakoni saat ada konser. Namun sayang, satu orang yang masih kucari dan belum kudapati dia, satu orang yang katanya mau mentraktirku bakwan kawi, satu orang yang beberapa hari sebelum ini sangat ingin kutemui, satu orang yang jika disebut namanya pasti kalian mengetahui dia, Mbak Gety Purwaningsih, hahahhahaaaa.... tak pernah aku menyangka bahwa aku gagal bertemu dia untuk yang kesekian kali. Apa penyebabnya, hemm... sebenarnya sangat berat untuk menceritakan ini, karena hanya akan membuat kecewa. Membuka luka lama yang belum sembuh betul, ckckkkckckckc.... *hiperbolis.

Jadi ceritanya, malam setelah konser aku mendengar gosip bahwa dia tak jadi menonton karena suatu hal, maka saat itu aku merasa hopeless alias putus asa. Kupikir dia sedang menangis di rumah karena tak bisa menonton sheila on 7, maka aku tidak mengabari atau bertanya padanya. Itu yang ada di bayanganku kala itu. Aku mencoba mendamaikan hati, mungkin lain kesempatan aku bisa bertemu dia. Beberapa saat setelah itu, ketika aku menunggui mas-mas sheila on 7 di hotel ada yang bilang kalau Mbak Gety Purwaningsih menonton konser itu dan baru saja berpamitan hendak pulang ke rumah. Baru saja, sekitar sepuluh atau lima menit yang lalu. Terdiam, tertegun, berkata dalam hati, “ada ya cerita seperti ini?”. Tuhan memang belum menjodohkan kami untuk bertemu. Ya ya, aku simpulkan bahwa memang kami belum berjodoh. Semoga lain waktu bisa berjumpa ya tante.

Opo maneh rek sing ate tak ceritakno, aku kok kesel ngedumel. Hahaa.. yowes tak sopo ae makhluk-makhluk sing tak temui ng konser 2 Oktober 2014 iki.

Ruller, Mbak Nofi & adhine, mas Tude, Indra, Panda, Ryry, Fitria, Afif & konco narsise sopo jenenge? Samsul, Lisa, Mas Themal, Mas Prima, Jimy, Tuyul Oki, Kolor Ijo Hendra, Mega, Bu Asfi, Bintang, Bulan, Matahari, Venus, Feri, Mbak Gety Purwaningsih, Sandy, Mas Rizal, Jo, Udin, Mas Adi, aduh sopo meneh yo?

Aku cuma mau bilang, terima kasih sudah mau jadi temanku. Terima kasih sudah mau baca, i love you all.  

 

*catatan iseng ini ditulis di Solo sambi smsan, bahasa berantakan, maksa untuk jadi tulisan, dan yang pasti diiringi lagu sheila on 7, sepuluh hari setelah konser. 12/10/14. 10.50 PM. NA

Waktu dan Tempat Berkisah (List Ngonser sheila on 7)

 1. Balaikota Semarang 4 Desember 2011

2. UNISULA Semarang 2 Maret 2013
3. SMA 1 Semarang 8 September 2012
4. GOR Tri Lomba Juang Semarang 19 April 2014
5. GOR UNY
6. Sportorium UMY 3 Juli 2013
7. Taman Budaya Yogya 26 Februari 2012
8. Grand Pasifik Yogya 18 Mei 2012
9. Benteng Vestenberg Yogya 1 September 2013
10. Universitas Ahmad Dahlan 8 September 2012
11. Alun-alun Yogyakarta 2 November 2013
12. Alun-alun Surakarta 2 Juli 2013
13. Bekasi Square 18 Mei 2013
14. Summarecon Tangerang
15. GOR Petrokimia Gresik 25 Januari 2014
16. SMA Islam Kepanjen-Malang 1 Maret 2014
17. Colors Pub & Resto Surabaya 31 Maret 2014
18. GOR Trilomba Juang, Semarang.
19. Alun-alun Yogyakarta
20. Universitas Negeri Malang
21. Grand City, Surabaya
22. GOR UNY, Yogyakarta. 13 Desember 2014
23. GOR UNY, Yogyakarta. 21 Februari 2015
24. Mangkunegaran, Surakarta. 8 Maret 2015
25. GOR UNY, Yogyakarta. 25 April 2015.
26. UII Yogyakarta, 30 Mei 2015.
27. Jogja City Mall, 30 Agustus 2015
28. USM Semarang, 24 Oktober 2015

29. GOR UNY, Yogyakarta. 19 Desember 2015

30. GOR UNY, Yogyakarta. 20 Februari 2016

31. GOR UNY, Yogyakarta. 23 April 2016

32. Benteng Vestenburg Surakarta. 27 Mei 2016

33. Grand Pasific Jogja. 23 Desember 2016

Romantic Tunes 4 Menyisakan Candu


“Romantic Tunes 4 bintang tamunya Sheila on 7 sama The Rain” katanya
“Serius?” tanyaku

Kaget, senang, dan tidak percaya, itulah yang kurasakan saat aku mendengar berita itu. Beberapa saat kemudian, kulihat poster konser ini dan ketidakpercaanku pun hilang dalam sekejap. Tawa dan wajah sumringah mewarnai pagi itu ~

Sungguh senang kiranya hati ini. Sebuah mimpi yang dulu hanya kusimpan dalam batin kini akan segera terwujud. Telah lama aku menginginkan untuk menyaksikan penampilan kedua band idolaku dalam satu pentas di acara Romantic Tunes. Dahulu, setiap kali ada vote guest star di akun IG @secre_creative aku selalu mengusulkan nama Sheila on 7 dan The Rain. Entah hal apa yang membuat pihak Secre akhirnya mewujudkan keinginanku ini. Rasa syukur pun tak henti kuucap terus-menerus. (Untuk siapapapun panitia – yang mungkin baca tulisanku ini – aku secara pribadi ingin mengucapkan rasa terima kasihku, terima kasih sudah mau mengundang Sheila on 7 dan The Rain di acara kalian)

Seperti biasa, untuk menonton konser ini aku harus membeli tiket. Tiket presale 1 dibuka tanggal 4 Januari. Tidak seperti konser tahun-tahun sebelumnya, kali ini aku sudah berniat untuk tidak mau direpotkan alias dititipi tiket oleh teman-teman. Alasannya satu : aku ingin datang lebih awal untuk menyaksikan The Rain! Intinya, aku gak mau telat masuk venue gara-gara ngurusi tiket. Jadi, kuputuskan untuk membeli dua tiket saja. :)

Januari berjalan begitu lambat. Terlalu lama untuk berganti Februari. Hari demi hari terus kuhitung, semakin kuhitung terasa semakin lama. Meski terasa lambat, aku tak punya pilihan lain selain menunggu. Dan ketika kalender memasuki bulan Februari rasanya melegakan. Akhirnya Januari yang menggelisahkan itu menjadi kenangan, berganti Februari yang kuharap akan manis dan meninggalkan kesan indah.

~

Hari yang dinantikan itu datang. Sabtu Pon, 17 Februari 2018. Jogja terasa sangat panas di hari ini. Panas yang membuatku malas untuk keluar di terik siang. Panas itu pulalah yang membuatku tak mau menukar tiket siang hari. Aku memilih untuk datang ketika fajar tak lagi menampakkan cahayanya. Ya, aku berangkat jam 17.00 dari kos. Sampai di lokasi suasana sudah ramai. Aku terjebak macet di parkiran dan tiket belum kutukar. Dengan segera aku mendatangi loket penukaran tiket dan taraaaaammmm... antrean sangat panjaaaaang bahkan sampai hampir keluar gerbang. “Gila saja jika harus ikut mengantre sepanjang ini” batinku. Jadi aku memutuskan untuk pergi makan dan kembali ketika antrean sudah sepi. Saat itu aku cukup beruntung karena bertemu dengan kawanku  Anis yang juga mau menukarkan tiket. Karena aku cukup cerdas jadi kutitipkan tiket pada Anis untuk ditukarkan. Sementara aku pergi ke angkringan untuk memadamkan kelaparan. Makasi ya, Nis sudah mau menukarkan tiketku. :*

Setelah makan, aku menuju pintu masuk GOR UNY. Sungguh sangat disayangkan, dari luar terdengar The Rain sudah melantunkan Gagal Bersembunyi padahal aku belum masuk lokasi. Tak ingin ketinggalan lagu lebih banyak lagi, aku berlari agar segera bertemu Anis untuk mengambil tiket.Hap! Tiket sudah kudapat. Setelah drama tiket usai, kini aku harus melanjutkan perjuangan untuk mengantre masuk. Antrean pun tak kalah panjang. Namun syukurlah, lagi-lagi aku beruntung. Kulihat dua kawanku bernama Gita dan Sinta - anggota Sheilagank Solo Pandawa Lima -  yang sudah mengantre sampai depan. Aku pun memanfaatkan situasi ini dengan menyelinap di antara mereka. ahaa... bisa masuk lebih cepat kan? Yes!!!

Aku sudah di dalam GOR. Mas Indra terus menyanyi tanpa memperdulikan aku yang ngos-ngosan gara-gara berlari demi melihat penampilannya, sebuah penampilan yang sudah lama kunantikan. Gagal Bersembunyi berakhir disambung Berkunjung Ke Kotamu. “Mas, aku hafal lagu-lagumu!” Meski aku seorang sheilagank sejak dalam kandungan, aku juga banyak hafal lagu The Rain. Band yang kukenal ketika hatiku sedang remuk-remuknya dulu. Hingga sekarang pun aku masih menyukai band yang beranggotakan empat pria-pria kece ini.

Rasanya begitu senang, sangat senang. Satu persatu lagu kunyanyikan bersama para penonton meramaikan GOR UNY malam itu. Usai Berkunjung Ke Kotamu, The Rain memberikan intro Terlalu Indah lalu disambung Terima Kasih Karena Kau Mencintaiku. Selesai menyayikan lagu ke-4, sang vokalis bercerita sebentar. Mas Indra memberitahukan kepada ribuan penonton bahwa putra pertamanya baru saja terlahir ke dunia yang indah ini, saat ia sedang di atas panggung. Sontak tepuk tangan dan sorak penonton mengiringi perasaan haru Mas Indra.Konser ini pun menjadi konser yang paling berkesan bagi Mas Indra – bagiku juga, Mas. Percayalah. Aku bahagia bisa menyaksikan penampilan The Rain dan Sheila On 7 dalam satu panggung Romantic Tunes 4. Kebahagiaanku pun terasa lengkap karena ada seseorang di sampingku yang menemaniku menonton konser ini. :p

Tembang terus dilantunkan, lalu sampailah pada Hingga Detik Ini. Lagu yang membuat suasana mendadak romantis gara-gara cahaya flashlight penonton menyala di kegelapan. Seperti membentuk gemerlap bintang. Sebuah suasana nan indah yang aku yakin pasti tak dapat dilupakan oleh siapapun yang datang malam itu.

Tak terasa, waktu berjalan sangat cepat, sebelas lagu tuntas dibawakan. Ada perasaan sayang akan semuanya. “Jadi ini sudah selesai ya?” aku membatin. Terasa kurang karena banyak lagu The Rain yang kutahu dan kuhafal tapi belum dibawakan. Namun apalah daya, aku cuma penonton konser kelas festival yang cuma membayar 60 ribu rupiah saja. Mana mungkin kehendakku ini terkabul. Jadi, kurelakan mereka mengakhiri pertunjukan. Sepanjang Jalan Kenangan resmi menutup penampilan The Rain di Romantic Tunes 4. 

Aku terdiam ketika ini berakhir. Ada sesuatu yang kurasakan dan aku berusaha keras untuk mencari tahu apa itu. CANDU! Rasa-rasanya ini tepat. Aku kecanduan ingin nonton lagi The Rain manggung. Rasanya belum puas bernyanyi. Meninggalkan Cerita Ini, Bulan Sabit, Dengan Sederhana, Jangan Pergi, Masih Mampu Menemanimu, dan Jabat Erat belum pernah kudengar secara live. Mas Indra, kalau Mas Indra baca tulisan ini tolong lagu-lagu itu dibawain pas konser di Jogja. Liriknya nyata, Mas!! Beneran, aku gak bohong! :(

Baiklah. The Rain selesai, giliran Sheila on 7 menunjukan aksi yang tak kalah keren. Menyelamatkanmu menjadi pembuka. Lagu yang sangat jarang dibawakan akhirnya menggema di Jogja. Para penonton yang rata-rata sheilagank tentu sudah hafal di luar kepala menyanyikan lagu ini dengan lantang. Maaf aku tak menghitung berapa banyak lagu sheila on 7 yang dibawakan, tapi aku ingat mereka membawakan Film Favorit. Lagu yang baru sebulan rilis tapi coverannya sudah banyak dan sheilagank hafal!
 
Kami bernyanyi, jingkrak-jingkrak, melupakan sejenak penat, karena kami datang ke sini untuk bersenang-senang. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Song list sheila on 7 sudah tuntas dibawakan semua. Artinya, pertunjukan selesai! Mungkin diriku masih ingin bersama kalian, mungkin jiwaku masih haus sanjungan kalian.....

17 Februari telah sampai ujung, benar-benar harus berganti menjadi 18. Pergantian hari itu juga menandai bahwa mimpiku telah menjadi nyata dan meninggalkan cerita. Cerita menyenangkan yang sedang berusaha kuingat dan kutulis di sini. Hari-hari terus bergulir, namun kenangan 17 Februari masih membayang.

Terima kasih untuk semuanya. Panitia @secre_creative (mimin yang hingga detik ini tak kuketahui identitasnya – yang terus menagih tulisanku ini - Tuntas ya, Min. Plis jangan terror aku. Hahaha, bercanda), untuk The Rain dan Sheila on 7 terima kasih untuk karya-karya kalian yang begitu nyata menemani hari-hariku, terima kasih untuk para sheilagank yang sudah datang dari berbagai penjuru kota, Sheilagank 7 Jatim, bulek Uul : ciyee, sekarang udah nggak ketinggalan kereta lagi, Linda & Patrick, Pak Gofur : untung koe ra nonton mbi aku, cumpleng, Pak. Suaramu koyo kaleng. Masrur senang bisa bertemu lagi, jauh-jauh terbang dari Jakarta demi ketemu anak-anak dan ngonser, Mas Aqni : jauh-jauh dari Gresik, motoran 9 jam, seneng & nggak nyangka bisa ketemu lagi. Temen-temen SG Solo Pandawa 5, Udin pipiku sakit mbok cubit, Mas Prima aku puas banget njiwiti koe, Mas. Yang jauh dari Wonosobo Mas Firman makasi caricanya enak dan nagih. Fajar : sorry tak jiwit lagi. Sheilagank Compass Semarang Mas Dadang, Afdi. Sheilagank Magelang, Arifin yang selalu telat nyariin, konser bubar lagi whatsapp. Temen-temen DDSG Wawan, Joko, Cungkring, Cipto, Ian, Ikhsan. Sheilagank dari manapun yang nggak kesebut, maaf. Makasi udah sempet berjabat tangan, berhahahihi, berfoto, aku masih sayang kalian. Untuk kamu, Mas, terima kasih sudah membawakanku banyak makanan, hahaha. Juga terima kasih kepada para pembaca. “Senang Bisa Bertemu”

Yogyakarta. Jumat, 9 Maret 2018. 12 : 21 PM

Lirik Film Favorit Sheila On 7

Terkadang hidup menggariskan misteri
Yang takkan pernah bisa aku pahami
Seperti aku yang tak pernah berhenti
Mencari celah menaklukan hati

Mereka bilang cobalah kau sadari
Misteri ini harusnya disudahi
Aku mencoba sederhanakan ini
Agar semua orang memahami

Reff :
Sama seperti di film favoritmu
Semua cara akan kucoba
Walau peran yang aku mainkan
Bukan pemeran utamanya

Karena mereka tak ikut merasakan
Indahnya hidup jatuh hati padamu
Sekali lagi aku kan menjelaskan
Berhenti bukan pilihan bagiku

Sama seperti di film favoritmu
Aku takkan pernah menyerah
Tak peduli yang  aku mainkan
Kubukan pemeran utamanya

by Eross Candra

Menang Kuis Dapet Tiket Gratis

Hallo, kayanya ini cerita pertama di bulan Desember. Kali ini aku mau sedikit berbagi cerita soal gimana aku bisa dapet tiket gratis konser Sepenuh Cinta. Beginilah ceritanya gaes..

Di suatu malam, sekitar pukul 20.00 seperti biasa di ruang latihan dan di sela-sela break latihan aku membuka gadget dan secara tidak sengaja mendownload foto yang dishare oleh Udin di grup whatsapp Dolan Terus Sheilagank. Aku yang biasanya paling males download foto entah mengapa malam itu seperti ada yang menggerakkan untuk mendownloadnya. Dari situ aku membaca bahwa di grup facebook sheilagank indonesia sedang berlangsung kuis berhadiah konser sheila on 7 23 Desember.

Tanpa basa basi aku langsung membuka akun facebookku dan ikut menjawab kuis yang terposting. Pertanyaannya gak susah, cukup menceritakan pengalaman seru bersama sheila on 7 dan harapan terbesar untuk mereka. Aku gerakkan jariku untuk menjawab kuis. Entah suara dari mana yang berbisik lirih kala itu, memilih pengalaman pertama kali bertemu sheila on 7 sebagai pengalaman paling berkesan. Aku menuliskannya dengan sangat enjoy dan tanpa dibuat-buat untuk jadi bagus. So, aku menceritakannya dengan begitu saja seperti aku menuliskan cerita ini. Di akhir cerita, aku tuliskan bahwa aku pengen duet sama mereka dengan biolaku. Entah siapa pula yang menyuruhku untuk menceritakan ini tapi kurasa biarlah banyak orang tahu dan siapa tahu malaikat mengamini doa mereka agar mimpiku itu terwujud.

Pulang dari kantor rasanya deg degan, bakal dapet gak ya tiket gratis itu. Hatiku merasa optimis menang tapi di lain sisi juga merasa tak yakin. Dan akhirnya............

Tadaaa.... seperti yang telah dijanjikan pemenang kuis akan diumumkan tanggal 07 Des selepas maghrib. Kubuka kembali akun facebookku dan namaku terpampang sebagai pemenang... Yeeeaaahhhhhh... teriakku dalam kamar. Bahagia sudah tentu itu yang kurasa.  Akhirnya kerinduanku pada sheila on 7 akan terobati. Jujur saja, aku sudah lama tidak menonton konser sheila on 7. Dan kali ini aku bisa menonton secara gratis tis tiiiissss!!!! Itu adalah hal yang cukup menggembirakan dalam hidup.

Sudah kubilang kan? Kalau ditakdirin ketemu pasti bakal ketemu entah bagaimana caranya. Well, tinggal nunggu hingga saat yang ditentukan datang. Lepaskan semua rindumu pada sheila on 7 dan pada sheilagank. Sampai jumpa tanggal 23 Desember di Grand Pasific Hall lagi. Yeaahhh.... Berteriaklah sekeras kerasnya, lupakan sejenak semua permasalahan hidup. Mari kita melompat lebih tinggi.


Yogyakarta, 9 Desember 2016.
Niken Ayu.



Berawal Dari Sheila On 7




“Banyak ya yang udah kita lewati?” tiba-tiba suara itu muncul.

“Gak nyangka bisa sejauh ini” ia meneruskan. “Dari yang awalnya cuma pengen ngenalin satu sama lain, tapi ternyata bisa lebih dari itu. Jadi impian itu terwujud” ia masih mengomel. “Berawal di Dieng, bisa juga sampai di Candi Cetho. Banyak yang udah kita lewati, juga pernah ada yang lagi sakit keras dan bener-bener gak bisa ikut kumpul ataupun dolan selama berbulan bulan, kali ini terlihat sehat, bugar, ceria, dan tentu saja koplak. Ada juga yang tiap kali mau ikut dolan harus menempuh perjalanan selama 7 jam, sampai sekarang mereka masih mau melakukan hal yang sama. Juga ada yang rela mengendarai motor sendiri, menempuh perjalanan 3-5 jam, tapi tetap semangat melewati itu. Ada pula yang mesti pusing memikirkan ini itu agar acara terlaksana, padahal dia juga punya segambreng PR, tapi tetap saja mau susah-susah, meluangkan waktu demi bisa ketawa bareng, gila bareng, bahagia bareng. Intinya, mereka masih seru hingga detik ini dan detik detik di kemudan hari.

Sheilagank Solo Pandawa Lima Berbagi

Adalah suatu kesenangan tersendiri, bisa bergabung dengan sheilagank solo Pandawa Lima (komunitas fans sheila on 7 dari kota Solo) dalam acara bagi-bagi takjil (12/07). Mungkin ini adalah pertama kali dalam hidup aku bisa merasakan asiknya sebar takjil di bulan puasa. Yaa... Memang, segala sesuatu akan datang masanya, maka selagi bisa selagi ada kesempatan, nikmati itu dan berikan yang terbaik.

Jujur saja, aku senang bisa berkumpul dengan anak-anak SGPL lagi, ada rasa rindu yang terobati ketika melihat senyum tawa canda mereka. Sebuah ikatan emosional yang tumbuh dengan alami. Sayang hanya sejenak, karena aku harus kembali ke Jogja (meski gagal gara-gara ketinggalan kereta).

"Someday, we will meet again". Bisik hatiku menenangkan.

@Wakisikun. Ditulis di kereta Sri Tanjung. 14 Juni 2015. NA.

Sepotong Kenangan Dari Dieng

Sebuah cerita kembali kutulis dengan sepenuh hati dan cukup mengorek memori. Jika dalam cerita berikut ini ada yang terlewatkan maka jangan protes karena aku takkan merevisinya jadi lebih baik kau berikan komentar pada kolom yang tersedia. Juga aku mengharap pemakluman dari pembaca yang budiman karena memori dalam ingatan ini sudah usang dimakan waktu.

Mei lalu tepatnya tanggal 16-17 2015, acara dolan kembali diadakan. Masih bersama sheilagank, karena barangkali dengan mereka aku bisa bahagia, dan tempat wisata yang kami tuju adalah Dieng. Ada yang berbeda pada acara dolan kali ini, karena sheilagank yang ikut bukan hanya dari Jawa Tengah saja tapi juga ada yang datang jauh-jauh dari Jawa Timur, tepatnya Surabaya. Sebutlah namanya Sukar dan Sukur, haha.. Oh, maaf aku mulai gila.

Yaps, Dieng, tempat wisata yang sudah pasti banyak orang mengetahui dan dikunjungi atau bahkan sudah banyak orang yang berkali-kali datang ke tempat wisata menawan ini.
Namun ini baru pertama kali aku mendatanginya, alasannya adalah satu yaitu penasaran. Mengunjungi tempat baru adalah hobiku dan syukurlah, dalam rombongan sheilagank dolan ini banyak yang belum pernah ke Dieng. Sebuah perjalanan akan mengobarkan api semangat jika kita memiliki tujuan dan keinginan yang sama. Begitupun kami, hanya delapan dari dua puluh lima anak yang pernah ke Dieng.

Sebelum bercerita sangat jauh, izinkanlah aku untuk membocorkan sebuah cerita menggelitik yang terjadi saat H-7 menjelang acara dolan. Malam itu waktu menunjukkan sekitar pukul 20.00, sebuah pesan di grup Whatsapp muncul dengan tiba-tiba dari seseorang yang jauh di sana, sebut saja namanya Budhi (asli nama sebenarnya).
“Dari Galerria ke mana?” Isi pesan itu
“Lurus aja, Mas, nanti udah nyampe Tugu”. Jawabku lugu
“Oke”. Balasnya
Otakku loading sejenak, lalu berfikir mengapa Kak Budhi bertanya demikian. Lalu aku pun bertanya,
“Mas Budhi mau ke mana?”
“Aku sudah di Tugu ini, kumpulnya di sebelah mana?”
Seketika tawaku lepas tak terkendali, antara kasihan dan geli mengetahui kejadian ini. Tanpa pernah kuduga dan kubayangkan, kok ya ada satu anak salah hari dan dengan PeDenya mengenakan kaos Musim yang Baik, mengendarai motor sendiri dari Solo ke Jogja untuk berangkat ke Dieng mengira bahwa hari itu adalah waktu piknik. Entah jin apa yang merasuki Kak Budhi atau ia terlalu senang sehingga membuatnya lupa anak istri.... eh maksudku hari. Dia pun bercerita bahwa sebenarnya ada satu acara yang dia batalkan pada malam itu gara-gara ia ingin ikut dolan. Sesampainya di Jogja, ia memutuskan untuk langsung ke Tawangmangu. Namun jam telah menunjukkan pukul 22.00, berbahaya dan ‘ngenes’ jika Kak Budhi harus pulang tanpa dendam. Maka, ia pun menginap di kos Udin setelah membeli enam gantungan kunci. Kami masing-masing dibelikan dua gantungan kunci oleh Kak Budhi. Baiknya ya Kak Budhi.. jangan panggil dia Budhi jika tak membuat orang lain senang. “Di manapun kau berada, selalu membuat kami tertawa”. Untuk yang penasaran dengannya, ini foto ketika kami bertemu di nol kilometer Yogyakarta. 
Udin - Niken - Kak Budhi

======= next

Narsis dulu di Tugu Yogyakarta
Hari Bersamanya pun tiba, sebuah hari yang kami tunggu kami nanti dan akan menjadi salah satu hari yang kami rindukan suatu hari. Pasukan telah berkumpul, total tiga belas anak dengan rincian dua dari Jawa Timur (Aulia dan Masrur), satu dari Solo (Ikhsan tanpa Kak Budhi), satu dari Klaten (Mas Edi), dan sembilan dari Jogja (Aku, Udin, Wawan, Atin, Aisyah, Ian, Tyas, Yusup, dan Anis). Kami berkumpul di Tugu Jogja, briefing, dan berpose sebentar untuk sekedar mengabadikan kenangan, lalu jam 22.30 kami menuju alun-alun Wonosobo. 
Sementara kawan dari Semarang sudah sampai di lokasi sejak sore hari. Sisanya sang tuan rumah Wonosobo dan Banjarnegara menunggu dengan setia di alun-alun Wonosobo. Selama perjalanan ke Wonosobo sangat lancar, tak ada rombongan yang tercecer dan ketinggalan seperti saat dulu, karena kali ini kami mengatur barisan dengan sangat rapi dan setiap motor diberi nomor antrean, hehehe. Thanks to Masrur untuk idenya. 



Seperti yang telah diprediksikan kami tiba di alun-alun pukul 01.00, jalanan sangat sepi dan kami terhindar dari macet. Meski kami sedikit waswas karena harus menelusuri jalan di malam hari, syukur alhamdulilah, doa mengawal perjalanan kami sehingga kami selamat sampai alun-alun tanpa halangan apapun.
Sesampainya di alun-alun kami bertemu dengan rombongan sheilagank Banjarnegara. Perkenalkanlah mereka Adi, Sucipto, Indah, Anisa, Firman, Tyas, Eron, teman Eron, dan Ardi. Setelah berjabat tangan, kami istirahat sebentar, berpose, sedangkan aku mojok dengan Aulia (makan, haha, maklum, kawan baruku yang satu ini penderita maag akut jadi tak boleh telat makan). Sehabis makan, kami kembali bertingkah di depan kamera.
Ian & Udin minum air langsung dr kran
Perjalanan ini jauh dari usai, maka kami harus kembali mengendarai motor untuk menuju kawasan wisata Dieng. Dinginnya udara malam Wonosobo menusuk kulit hingga ke tulang, kami kedinginan. Ditambah aku tak membawa jaket tebal karena ia tertinggal di Solo. Di sinilah cerita gawat mulai muncul. Motor Yusup bensinnya menipis, sangat tipis, jarumnya sudah berada pada titik kritis. Selama perjalanan kami terus mencari dan terus mencari POM Bensin atau pedagang eceran namun tak satupun yang buka. Jalan sangat sepi dan pemandangan kanan kiri adalah sunyi. Kami terus melanjutkan perjalanan. Sampai di rumah Lukman, di jalan akan masuk rumahnya ada pedagang bensin tapi tutup. Karena motor kami sangat membutuhkan asupan energi kami mengetuk pintu penjual bensin eceran itu. Syukurlah, masih ada beberapa liter bensin untuk menghilangkan dahaga si motor dan kecemasan kami. Perjalanan pun dapat kami lanjukan.

Berebut Api Unggun
Sekitar jam 03.00 akhirnya kami sampai di lokasi. Menjumpai api unggun yang masih hangat, kami seperti menemukan harta karun dan berebut mendatanginya untuk menghangatkan badan. Adi mencatat nama-nama pasukan untuk diabsen. Semua lengkap dan tak ada yang kurang. Setelah berjumpa dengan rombongan dari Semarang kami mendaki bukit Sikunir. Mendaki bukit ini yang ada hanyalah gelap dan ramai akan sangat yang berbahaya jika sampai kami terpisah. Untung saja, kami membawa cukup senter dan HP berisi lagu sheila on 7. Kami putar lagu sheila on 7 sekaligus sebagai tanda bahwa kami harus mengikuti suara itu. Ini cara kami agar tetap sejalan. Sesekali kami berhenti untuk absen ulang rombongan. Apakah lengkap? Tidak. Ada beberapa nama yang hilang entah ke mana. Mungkin di depan, bisa juga di belakang, well, kami pun Jalan Terus namum pada akhirnya kami yang terpisah bisa berjumpa kembali gara-gara lagu sheila on 7.

Jam 04.00 kami sampai puncak, menunggu sunrise yang kata orang sangat indah. Sambil menunggu sunrise kami duduk manis dan menyanyikan lagu kebanggaan kami apalagi jika bukan lagu sheila on 7. Suara koor dari atas Bukit Sikunir ini membuatku bahagia, bahkan saat aku membuat tulisan ini, rasa-rasanya aku ingin kembali ke sana, melantunkan lagi dan lagi lagu kesayangan bersama kalian.
Sang fajar yang dinanti telah memunculkan tajinya dari timur. Kami berebut mengabadikan pemandangan indah ini. Warna oranye kekuningan mentari membuat langit sangat cantik. Semakin lama, semakin terlihat awan-awan putih yang membuat Sikunir semakin menakjubkan. Sebuah pemandangan yang memanjakan mata, membuat kami ingin di sana berlama-lama. Sebuah pemandangan yang elok telah membayar lunas perjalanan jauh kami. Sebuah pemandangan yang luar biasa, tak dapat membendung hasrat kami untuk bergaya di depan kamera. Inilah beberapa karya dari atas Bukit Sikunir. 









Waktu masih pagi, jam menunjukkan pukul 08.00. Kami memutuskan untuk turun karena telah puas bersenang-senang di ketinggian Bukit Sikunir. Tempat wisata tujuan kami selanjunya adalah Bukit Ratapan Anak Tiri, hehe... begitu kami memelesetkannya. (Bukit Ratapan Angin, nama sebenarnya). Tiket masuk ke lokasi ini adalah Rp 10.000. Dari Bukit Ratapan Anak Tiri ini, kami bisa melihat Telaga Warna dari atas seperti foto-foto yang beredar di google. Cukup indah, namun sayang, aku sudah kehabisan tenaga dan yang kurasai hanyalah lemas. Cuaca panas, kontras dengan malam hari di Sikunir. Maka, sejenak kulepas lelahku di sini.

Sedang kawan yang lain asyik bergurau dan yah apalagi jika bukan jeprat jepret. Pemandangan yang indah dan momen-momen langka seperi itu memang harus dibidik oleh kamera. Sekitar tiga puluh menit aku isirahat, kubuka mataku dan aku berlari menghampiri mereka untuk ikut berfoto, hahaha.. Aku sudah hidup kembali. Tapi aku butuh nasi, maka aku, Adi, panglima Atin, dan entah siapa aku lupa, memutuskan untuk turun sedang Tyas, Anis, Udin, Iksan, Aulia, Masrur, dan sisanya masih menggelora hasratnya menjelajahi Buki Ratapan Anak Tiri ini. Setelah puas, mereka juga turun untuk mengisi perut yang sudah rewel. Sebuah kelucuan kembali terjadi, satu-satunya lelaki yang berambut gondroooong dalam rombongan ini dipanggil Mbak oleh seorang ibu, ibu itu mengira bahwa Mas Firman adalah wanita. (Mas, gak punya niat buat potong rambut setelah ini? Atau cukup senang dengan nama baru Mbak Fira? Ckckck)



Waktu beranjak siang, kami memutuskan untuk pulang. Namun sebelum pulang, kami harus dan wajib mampir ke rumah Lukman, karena semalam rencana ini batal lantaran waktu terlalu mepet. Sampai di rumah Lukman, kami berisirahat dan tidur sangat lama. Hampir semua anak tidur, kecuali aku, Mas Firman, Wawan, dan Tyas. Di saat mereka nyenyak tertidur, naluri jahilku hidup kembali. Aku memotret mereka dan mengunggah foto di grup. Maaf ya kawan, naluri ini tumbuh tak terkendali. :p 


Adzan Dhuhur menggema, kami menjalankan ibadah lalu berencana untuk pulang karena perjalanan pulang cukup memakan waktu ditambah sepaket bonek Surabaya harus segera pulang agar dapat berakifitas seperti biasa esok hari. Jam 14.00 kami memutuskan untuk tinggalkan Lukman sendiri, kasian deh loo... emang enak ditinggalin? Makanya pindah Jogja aja. Week.. :p 

Karena tak ingin sendiri dan tak ingin kesepian, Lukman menahan kami dengan makanan. Yaps, kami disogok dengan hidangan istrinyewa (baca : isimewa) sehingga tak jadi pulang. Makanan sudah habis, Lukman tak punya ide dan alasan lagi untuk menahan kami. Sebagai kenang-kenangan, kami berpose lagi di rumah Lukman, beberapa jepretan terambil, meski dengan penuh perjuangan karena batre kamera sudah habis. 

 

Lukman, kami pami pulang ya, terimakasih untuk jamuannya dan kebaikan hati menampung anak-anak bolang yang kelelahan ini untuk pejamkan mata. Maaf, kami harus pulang membiarkanmu kesepian karena tak ada lain pilihan.


Kupikir, inilah waktu yang tepat untuk berpisah...... dan kami harus benar-benar mengakhiri hari indah ini, tapi Wonosobo masih punya satu alasan untuk menahan kami. Mbak Ida. Perkenalkanlah kakak cantik yang satu ini, dia memang tak ikut piknik namun ia ingin menemui kami di Alun-alun Wonosobo. Kami berjumpa dengannya, berjabat tangan, dan Mbak Ida menggiring kami ke suatu tempat untuk ngopi. Karena ini adalah acara sheilagank, maka di tempat ngopi pun panglima Atin me-request lagu sheila on 7. Sayang, hanya diputarkan satu lagu, pelit deh. Kami masih ngobrol ke sana ke mari dan tak terasa minuman di cangkir telah habis. Adzan Ashar berkumandang, waktu sudah sore. Kali ini kami benar-benar harus pulang. Surabaya, Jogja, dan Solo menunggu kami untuk kembali.
Ngopi
Perjalanan pulang tak semulus saat berangkat, karena hari sudah mau malam, kami harus cepat sampai Jogja, sepaket bonek Surabaya harus cepat-cepat pulang, kondisi kami yang sangat lelah dan hanya kasur yang ada dalam otak membuat kami hilang kendali. Hilang-hilangan di jalan dan tercerai berai. Hp lowbat, pulsa habis, komunikasi tak lancar. Di saat seperti ini, feeling lah yang kami andalkan. Sesampainya di Magelang, kami terpisah menjadi dua, Ikhsan dan Mbak Atin lewat jalur Borobudur sedangkan aku dan mayorias rombongan lewat jalan lain. Namun syukurlah, kami tiba di Jogja dengan selamat.
Sebuah petualangan yang menyenangkan ini resmi berakhir, kami memiliki cerita baru, teman baru, keluarga baru, kami saling mengenal, semakin akrab, dan kami punya pengalaman baru. Hari ini telah terukir indah dalam hati dan kenangan kami masing-masing. Jika kemarin kami masih ragu, malu, dan sungkan untuk bersapa, namun kini.... semua gila.  #SalamDolan. :D

Terimakasih sudah membaca, jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar agar hidupmu bahagia.

Yogyakarta, 19 Juni 2015. NA.


Niken Ayu. Diberdayakan oleh Blogger.